roti pentung ++

Kemarin, senin, siang saya pergi ke rumah sakit diantar suami. Dalam perjalanan saya menawarkan untuk membuat roti kismis sebagai makan siang dia untuk hari rabu. Dia menyambut gembira. Dia bilang, “Sekali-kali roti dengan citarasa berbeda.” Lah iya. Soalnya hampir tiap hari sangu makan siangnya roti isi keju. Kalau nggak ya roti isi ham. Semua gurih. Kalau roti kismis kan rasanya manis.

Senin malam saya duduk di depan komputer. Niatnya sih mencari resep roti kismis di internet. Entah kenapa saya melantur. Malah lihat-lihat roti-roti yang lain. Semua menarik. Semua menggiurkan. Semua bikin saya ingin membuat roti-roti itu. Tapi yang paling menggugah semangat untuk langsung mengeksekusi adalah…. baguette! Roti pentung yang konon kabarnya berasal dari Prancis. Lah malah jadi lihat-lihat cara bikinnya di Youtube. Asik deh.

Melihat saya asik menonton cara bikin roti pentung di Youtube, suami menyempatkan diri melongok sejenak. Tiba-tiba dia bilang, “Roti ini juga menarik ya untuk makan siang di kantor. Diberi olesan mentega-bawang putih – garlic-butter.” Saya mengiyakan sambil tertawa. Lalu bertanya, “Jadi mau yang mana? Roti kismis atau garlic-butter baguette?” Tanpa pikir panjang dia bilang, “Garlic-butter baguette-lah.”

Oke deh.

Jadilah siang ini saya uplek di rumah membuat roti pentung. From scratch, kalau kata orang Inggris. Tapi karena ini bakal menjadi pengalaman pertama, maka saya membuatnya separo resep saja. Pertimbangannya tentu kalau gagal tak banyak bahan makanan yang terbuang.

Hhmmm… Padahal satu resep utuh jadi 3 buah roti pentung. Kalau separo resep mesti saya jadikan berapa buah ya? Saya putuskan separo resep dijadikan dua buah roti pentung tapi ukuran agak kecil. Begitulah.

DSCF8593-edited 03

Yang menurut saya agak menantang adalah karena pembuatan roti pentung ini ditujukan tidak sebagai baguette biasa, tapi sebagai garlic-butter baguette. Kuncinya adalah mengeluarkan si roti pentung dari dalam oven saat pemanggangan berlangsung separo jalan. Lalu roti yang baru separo matang itu diiris-iris dengan ketebalan dua jari. Bagian yang diiris kemudian diolesi dengan garlic-butter. Setelah itu si roti dipanggang sampai matang.

O ya… garlic-butter-nya saya pakai yang beli jadi di supermarket. Malas repot lebih lanjut.

Suami saya inginnya si baguette tidak dipanggang sampai permukaannya matang kecoklatan. Istilah kerennya golden brown. Dia lebih suka roti baguette yang permukaannya baru putih bersemu kecoklatan. Sebab permukaannya jadi tak terlalu keras.

DSCF8595-edited 03

Sekarang garlic-butter baguette-nya sudah matang. Sesuai harapan suami saya. Garlic-butter baguette yang putih bersemu kecoklatan. Tapi kami belum tahu rasanya seperti apa. Masih harus menunggu besok siang, saat dia menyantapnya di sela-sela waktu kerja di kantor.

Penasaran. Pake banget.

Catatan: postingan ini akan saya update kalau sudah dapat laporan selayang rasa dari suami .

 

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: