Tahu, kembangnya dan gembus

Kamis pertama tahun ini, 2018, saya isi dengan membuat tahu. Ini salah satu produk kedelai yang sudah lama sekali tak saya bikin. Sebenarnya kangen bikin sudah sejak tahun lalu. Tapi rasa malas lebih menonjol. Apalagi tahun lalu saya sedang giat-giatnya merajut. Jadi kegiatan dapur mereda. Begitulah.

Lalu kamis itu saya berkutat di dapur. Kedelainya sudah saya cuci bersih dan rendam dari malam sebelumnya. Jadi kamis pagi, 4 januari, saya tinggal melanjutkan kerja. Membuang air rendaman dan membilas kedelai sekali lagi. Lalu sedikit demi sedikit kedelai yang telah mekar itu saya blender dengan cara mencampurnya dengan air yang lumayan banyak.

DSCF8308-edited 03

Satu kerepotan yang dulu saya lakukan dan kamis, 4 januari, itu saya ulangi adalah: hasil blenderan kedelainya tidak langsung saya saring, tapi saya rebus dulu. Ini merepotkan. Menyaring hasil blenderan kedelai setelah direbus menurut saya sama sekali tidak praktis. Sebab kan panas. Jadi kita pasti mengalami kesulitan ketika memeras kain saring berisi ampas bubur kedelai sebab panas. Yang jelas saya jadi kerja dua kali untuk proses perebusan. Sebab setelah selesai proses penyaringan, susu kedelai hasil penyaringan harus direbus lagi. Apa boleh buat. Bubur kedelainya sudah telanjur saya rebus sebelum disaring. Besok-besok nggak boleh lupa lagi. Ribet dan jadi boros api. Boros tenaga dan waktu juga, jadinya.

DSCF8322-edited 03

Anyway…

Setelah susu kedelai mendidih dan direbus terus selama 10 menit dengan api paling kecil lalu saya beri cuka. Saya pakai natural vinegar. Nggak tahu kadar cukanya berapa persen. Tidak dicantumkan di label produksinya. Yang jelas bukan cuka konsentrat seperti yang dipakai di banyak dapur di Indonesia. Saya aduk perlahan sebentar lalu saya diamkan hingga kandungan sari kedelai berpisah dengan air. Baru kemudian saya tuang ke dalam cetakan tahu yang telah dilapisi atau dialasi kain saring. Setelah sebagian besar airnya terbuang, lalu tahu dibungkus dengan kain saring dan ditiban benda berat agar air yang masih terkandung dalam tahu sebanyak mungkin terbuang. Saya menggunakan dua buah wadah plastik yang diisi air. Keduanya saya tindih lagi dengan cobek.

DSCF8324-edited 03

DSCF8327-edited 03

Tahu yang saya buat tempo hari itu hasilnya agak terlalu padat, menurut saya. Eh, tapi ini mah soal selera. Lain kali kalau bikin tahu lagi, ampas tahunya akan saya uleni dengan sedikit air hangat dan saring lagi. Supaya hasil akhirnya, si tahu itu, jadi tak terlalu padat. Bisa lebih lembut. Sayangnya hasil akhir tahu tidak sempat saya foto. Lupa. Lain kali kalau bikin lagi mudah-mudahan tidak lupa saya foto.

O ya. Saat merebus susu kedelai, kalau susu sedang tidak diaduk, maka di permukaannya akan terbentuk lapisan seperti kulit tipis. Ini yang di Indonesia disebut sebagai kembang tahu dan biasa dijual dalam bentuk kering. Dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai tofu skin. Di Indonesia biasanya digunakan untuk campuran sayur misoa-oyong/gambas. Enak!

DSCF8326-edited 03

Kembang tahu sendiri punya dua makna. Salah satunya tofu skin seperti yang saya sebut di paragraf di atas itu. Sedang makna kedua adalah tahu dalam bentuk yang sangat lembut dan biasa dimasukkan dalam kategori sajian minuman. Dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai soft tofu pudding. Biasa disajikan hangat atau dingin dengan air gula beraroma jahe. Dulu saya pernah mencicip kembang tahu yang ini. Beli dari tukang kembang tahu yang lewat di depan rumah. Sudah lupa bagaimana rasanya. Tapi seingat saya, I was not impressed. Kapan-kapan saya ingin coba bikin. Siapa tahu jadi impressed dan berlanjut jadi kemaningan. He he he…

Ampas hasil perasan bubur kedelai untuk membuat tahu saya olah jadi gembus.

Yup! Gembus!

DSCF8415-edited 03

Ini gembus pertama yang pernah saya buat. Penampakan hasil akhirnya sih oke. Tapi setelah digoreng, deg-degan juga saat akan menyantapnya. Lah gimana nggak deg-degan. Wong beberapa waktu yang lalu kan diberitakan ada beberapa orang yang keracunan tempe gembus. Hiyaaahhh!!

Mengunyah segigit tempe gembus goreng tepung sambil deg-degan. Tapi jujur saja saat mengunyah saya membatin: hhmmm… enak!

DSCF8417-edited 03

Satu lempeng gembus saya jadikan tempe gembus goreng tepung. Enak. Habis. Dan, Puji Tuhan, saya baik-baik saja. Alleluya!

 

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: