Gereja-Altar

Kawin campur bisa terjadi pada siapa saja. Pada apa saja.
Misalnya seperti yang terjadi pada kentang-teri-kacang balado Indonesia dan garlic naan India dalam foto-foto di postingan ini.

DSCF5174-edited 02

Di lain waktu saya menyantap rendang tidak dengan nasi putih panas ngepul-ngepul, tapi dengan roti bulat Eropa, dinner roll. Kadang si rendang saya santap dengan chapatti atau dengan kentang rebus dan kerupuk singkong atau emping. Apa saja yang sedang tersedia di rumah.

DSCF5117-edited 03

Kalau sudah bosan “merendang”, rendangnya saya jadikan sebagai isi bakpao. Lalu bakpaonya saya bekukan untuk disantap di lain waktu. Atau menjadikan roti lavash Turki sebagai teman makan sup sayur ala ibu tercinta, atau pepes ikan, atau rauwkost, salad sayur mentahan ala Eropa.

Tidak tinggal di kampung halaman membuat saya berpetualang, menjadikan mulut ini sebagai gereja dan lidah ini sebagai altar, tempat makanan dari berbagai sudut dunia melangsungkan kawin campur mereka.

naan-kentang balado collage-edited 01

 

Catatan: Tulisan dan foto-foto dalam postingan ini pernah saya unggah di akun Facebook saya pada 13 februari 2017.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: