bakpao isi rendang

Sebulan yang lalu suami saya bikin rendang. Seperti biasa, dia pakai bumbu instan yang dibeli di supermarket. Bumbu rendang instan ini produksi Belanda. Jadi rasanya sudah disesuaikan dengan lidah orang Belanda. Not bad. Tapi…. ya gitu deh.

Seperti biasa juga, kami cuma menghabiskan separo porsi rendang. Itupun dalam tiga hari berturut-turut. Selebihnya kami simpan dalam lemari pembeku. Dan karena beberapa hari yang lalu kami berdua mati gaya dan kram otak, nggak tahu mesti masak apa untuk makan malam, rendang dalam lemari pembeku kami keluarkan. Dipanaskan. Dan jadilah lauk untuk makan malam dadakan. Lumayan. Nggak perlu masak heboh. Sedang nggak ada waktu juga soalnya.

Segitu-gitunyapun, si rendang nggak habis juga. Mungkin sebenarnya kami masih bosan makan rendang. Jadi cuma kami santap untuk sekali makan malam. Rendang yang masih tersisa mengendap nganggur di lemari pendingin. Nggak mungkin dimasukkan lagi ke dalam lemari pembeku. Mau dijadikan lauk teman makan nasi kok ya males amat.

Tiga-empat hari tak disentuh sama sekali, kok ya saya merasa nggak tega. Saya berusaha untuk nggak buang-buang makanan. Masih banyak sekali orang yang nggak bisa makan. Sedih kalau mikir ini. Jadi selalu berusaha mensyukuri makanan yang menjadi rejeki kami.

Putar otak. Hmmm… enaknya diapakan si rendang ini ya?

Aha!

Bakpao!

Ya, kenapa nggak?!

Kebetulan minggu lalu saya membuat shepherd’s pie. Dan ketika berencana membuat tulisan tentang pie gurih ini, saya mencari bahan bacaan tentang sejarah si pie gurih. Nah… ide dasar pembuatan pie ini kan dulunya untuk memanfaatkan daging panggang sisa makan malam di hari sebelumnya. Kenapa ide ini tidak saya pakai untuk memanfaatkan si rendang ya? Bisa dijadikan isi roti. Dan kali ini saya pilih roti yang dikukus saja. Bakpao.

Tadi malam…. tepatnya tengah malam, suami sudah berangkat tidur. Saya masih keras kepala, belum mau tidur. Padahal sudah mulai ngantuk. Pikiran masih sibuk menawar. Jadi bikin bakpao nggak ya? Hmmm…

Akhirnya bokong ini beranjak juga dari sofa. Dan saya berjalan ke lemari tempat menyimpan tepung. Mulai menimbang dan menakar, mengaduk dan menguleni. Tiba-tiba adonan bakpao sudah menggumpal, siap untuk dikembangkan. Wadahnya saya tutupi dengan cling film dan serbet piring yang kering dan bersih. Lalu saya beres-beres dan bersih-bersih sekadarnya. Matikan lampur lalu pergi tidur.

Pagi ini saya bangun ekstra pagi supaya punya cukup waktu untuk menyelesaikan pembuatan bakpao. Kenapa sih buru-buru? Supaya bisa matang sebelum suami berangkat ke kantor. Jadi bakpaonya bisa dia bawa untuk sangu makan siang di kantor.

dscf4609-edited-01

Karena bikin adonan bakpaonya cuma separo resep, maka cuma jadi delapan. Rendang di lemari pendingin saya keluarkan. satu bagian adonan bakpao saya pipihkan, beri isi dan dipilin sekadarnya. Sambil mengerjakan ini sambil merebus air yang banyak di panci kukusan dengan api besar.

Begitu air mendidih, saya masukkan tiga buah bakpao ke dalam kukusan. Iya. Kukusannya imut punya. Para bakpao dikukus dengan api besar selama 12 menit. Delapan buah bakpao dikukus dalam tiga angkatan.

Voila!

dscf4611-edited-01

Bakpaonya selesai sebelum suami berangkat kerja. Dia sumringah. Berangkat kerja sambil nenteng tas makan siang berisi tiga buah bakpao. Bakpao isi rendang. Hehehe…

* * * * * * *

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: