Kimchi rumahan

Pertama kali saya mencicip kimchi ketika saya tinggal di New Delhi, India, dalam rangka studi tari.

Suatu hari, seorang kawan baik berkebangsaan Korea Selatan menawari saya untuk kost bareng dia. Wah, tentu saja saya tak menolak tawaran menarik ini. Pendek cerita, saya mengiyakan dan tak lama kemudian saya boyongan, pindah ke kamar kostnya. Dan di situlah sesekali saya mengalami keberuntungan sederhana yang kini menjadi kenangan indah. Menikmati kimchi rumahan buatannya. Itulah kimchi-kimchi pertama. Kimchi-kimchi yang sungguh enak. Hmmm… saat itu saya tidak punya perbandingan. Belum pernah makan kimchi bikinan restoran atau yang dijual massal. Hanya buatannya. Dan sungguh luar biasa enak. Keberuntungan seorang murid tari yang dadakan punya teman sekamar jago masak.

Setelah selesai dengan studi tari, saya mesti hengkang dari India. Dan kenangan akan kimchi-kimchi yang lezat itu sesekali melintas dalam ingatan. Dan menggerakkan saya untuk mencoba membuat sendiri. From scratch.

Dan itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Tepatnya kapan, saya sudah lupa. Paling tidak lima tahun yang lalu. Mungkin. Rasanya sudah lama sekali. Hmm.

Resepnya saya cari di internet. Saya coba ikuti sampai ke titik dan koma.

Hasilnya?

Saya nggak suka.

Asam luar biasa. Tapi karena tidak ingin membuang makanan, terpaksa saya makan sampai habis. Pelan-pelan. Butuh waktu sebulan dua, mungkin, waktu itu. Entahlah. Lupa. Yang masih saya ingat hanya siksaan rasa asamnya yang sangat itu ketika ngemplok.

Lalu saya kapok. Ngambek, wegah bikin lagi. Sebab bikin kimchi from scratch benar-benar memakan waktu dan tenaga. Terutama menggarami dan mencuci sawi putihnya yang mesti lembar demi lembar. Melelahkan luar biasa.

Tapi tahun ini, 2016, saya kembali dimomokin kenangan indah akan kimchi-kimchi nan lezat bikinan teman baik Korea itu. Tapi saya masih trauma. Lalu gimana?

Saya putuskan untuk bikin kimchi. Tapi pakai bumbu siap pakai. Beli di Toko Asia di salah satu pojok Arnhem.

Setelah beli bumbu siap pakainya pun si kimchi tidak langsung saya bikin. Awang-awangen, kata orang Jawa. Tapi penasaran dan kangen yang luar biasa sama kimchi, akhirnya bikin juga. Pake deg-degan. Takut salah kejadian lagi.

Akhirnya jadi juga. Tiga wadah plastik.

kimchi-veggies-collage-edited-01

dscf3944-edited-04

Satu jam setelah jadi saya cicipi. Hmm… rasanya seperti rasa pabrik. Hahaha… bumbu siap pakai gitu loh. Tapi keesokan harinya rasanya jauh lebih ok. Dan rasanya jadi lebih ok setelah hari H + 1 lewat. Not bad.

Habis dalam waktu dua minggu.

dscf3949-edited-03

Gak lama setelah selesai bikin kimchi dengan bumbu siap pakai itu saya berucap gini ke suami, “Kalau yang ini hasilnya oke, nanti kalau sudah habis saya mau coba bikin from scratch.” Dan suami mengangguk-angguk tanpa kata.

Dia nggak doyan kimchi.

Tiga minggu setelah isi wadah plastik ketiga menguap lenyap, benarlah saya mewujudkan “ancaman” itu. Bikin kimchi from scratch. Nggak tanggung-tanggung. Sekali bikin pakai sawi putih 2,6 kg. Itu memang ukuran untuk bikin satu resep. Sambil bikin, sambil hati kebat-kebit. Kalau hasilnya nggak oke, berasa dihukum banget. Karena bakal terpaksa menghabiskan kimchi 3,3 kg sendirian. Kapokmu kapan!

Saya pilih hari yang baik. Maksudnya, hari dengan mood yang baik. Gak pake jutek. Kuga tenaga fisik fit dan nggak ada janji dengan siapapun, termasuk dengan suami. Hari bebas merdeka.

kimchi-collage-edited-01

Menggarami, memfermentasi, mencuci dan mengolesi helai-helai sawi putih satu demi satu bukan kerja yang selesai dalam waktu 30 menit. Seharian!

Kali ini saya kerjakan secara cermat, sesuai dengan instruksi, tapi tidak sampai ke titik dan ke koma. Kalau duluuuu instruksi aturan waktu fermentasi di suhu ruangnya saya ikuti juga. Sehari semalam. Kali ini tidak saya ikuti. Satu jam setelah selesai saya buat, si kimchi langsung saya masukkan ke lemari pendingin. Ini yang disebut slow fermentation. Fermentasi perlahan.

dscf4372-edited-01

Menurut saya, kimchi yang asamnya jadi luar biasa beberapa tahun yang lalu itu karena saya mengikuti instruksi pembuatan dengan membabi buta. Tanpa mengingat bahwa ketika membuat kimchi saat itu sedang di puncak musim panas.

Hawa panas mempercepat proses fermentasi. Dan kalau kimchi dibiarkan dalam suhu ruang (yang saat itu sedang panas-panasnya) selama sehari semalam, ya nggak heran kalau si kimchi jadi asam kecut luar biasa.

Tapi saat itu kan saya buta sama sekali tentang proses fermentasi. Tidak tahu bahwa semua itu ada kaitannya dengan suhu udara. Dan setelah sedikit demi sedikit baca lebih banyak, tentang budaya Korea, sekarang jadi tahu kenapa instruksinya menyebutkan proses fermentasi semalam di suhu ruang. Sebab secara tradisi bikin kimchi di Korea sana selalu dilakukan di musim gugur. Ketika suhu udara sudah jauh lebih rendah. Sudah dingin. Hawa dingin kan memang memperlambat proses fermentasi.

Nah!

Sekarang saya tahu bahwa proses fermentasi di suhu rendah tetap terjadi, tapi sangat lambat. Namun hasilnya juga malah lebih yahud. Karena lamanya waktu yang dibutuhkan, membuat hal yang difermentasi itu jadi punya cukup waktu untuk mengembangkan dan mengolah rasanya.

dscf4395-edited-01

Ini berlaku untuk apapun. Roti. Kimchi. Yogurt. Hmm.. apa lagi ya?

Dan pengetahuan baru inilah yang kini saya terapkan dalam membuat kimchi from scratch kali ini. Walaupun ketika membuatnya, musim gugur sudah separo jalan, tapi saya tetap nekat menyimpan si kimchi dalam lemari pendingin hanya satu jam setelah selesai dibuat.

3,3 kg kimchi sebagai stok saya di musim dingin 2016/2017 ini. Yang jelas sih, kali ini saya tidak merasa dihukum setiap kali menyantapnya. Saya menikmatinya. Hmm… :)

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: