ngidam kerupuk nasi

DSCF7486-edited 02Di Indonesia kerupuk nasi lebih dikenal sebagai gendar atau kerupuk gendar. Padahal, kalau tidak, salah kata gendar adalah sebuah kata dalam Bahasa Jawa. Entahlah. Anyway, saya hobi banget makan kerupuk yang satu ini.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kerupuk nasi atau gendar ini selain, tentu saja, nasi juga bleng. Sejak entah berapa tahun terakhir banyak orang menyangsikan keamanan penggunaan bleng. Pada akhirnya saya terpapar juga. Jadi mulai enggan makan kerupuk. Termasuk kerupuk gendar. Lalu saya mulai menggumun sendiri di dalam hati. Kira-kira mungkin nggak bikin kerupuk gendar tanpa menggunakan bleng. Harusnya sih bisa. Hanya saja mungkin ada perubahan tekstur. Tapi kalau misalnya tanpa bleng tekstur kerupuk gendar kemudian menjadi tidak atau kurang renyah saja (baca: agak keras) sih saya sama sekali tidak keberatan. Asal rasanya oke.

Melenceng sedikit.

Ketika pulang ke Indonesia medio 2014 yang lalu saya sempat ngobrol dengan ibu tercinta soal kerupuk nasi dan bleng. Ibu saya bilang, aslinya bleng dibuat dari lumpur mineral seperti yang terdapat di Bledug Kuwu, Desa Kuwu, Jrakah, Semarang. Dan bleng yang terbuat dari lumpur mineral itu rasanya tidak berbahaya bagi kesehatan. Tapi bleng dari olahan lumpur mineral ini sudah semakin sulit diperoleh. Mungkin karena proses pembuatannya masih sangat tradisional. Sementara kebutuhan pasar akan bleng semakin meningkat, mengingat semakin banyaknya usaha kerupuk nasi rumahan. Akibatnya produksi bleng alam tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar. Dan kemudian muncul “bleng” pengganti yang dibuat dari bahan dasar boraks.

Menurut info yang saya baca dari Wikipedia tentang Bledug Kuwu bleng dari lumpur mineral dibuat dengan cara menampung dan mengeringkan air lumpur. Mungkin proses ini mirip seperti proses pembuatan garam yang berasal dari air laut. Sementara boraks adalah sebuah mineral yang ditambang dalam bentuk padat. Warnanya putih. Setahu saya tambang boraks terbesar di dunia ada di Turki. Sebab saya pernah menonton sebuah film dokumenter yang melibatkan penambangan boraks. Dan penambangan boraks yang diperlihatkan dalam dokumenter tersebut adalah tambang boraks di Turki.

Hei… info di paragraf ketiga di atas itu jangan ditanggapi dengan serius ya. Sebab itu hanya obrolan kosong antara ibu dan anak. Dan ibu saya sama sekali bukan ilmuwan. Beliau ibu rumahtangga. Sementara informasi yang saya dapat tentang bleng dan Bledug Kuwu (paragraf keempat) juga tidak memadai.

Mulailah saya mencari-cari resep kerupuk nasi di internet. Mbah Google selalu siap membantu setiap saat. Aihh… Indahnya era teknologi canggih. Akhirnya dapat satu yang menurut saya oke. Resepnya saya ambil dari sini. Terima kasih. Beberapa hari kemudian saya berkutat di dapur, mencoba membuat kerupuk nasi tanpa bleng. O ya, uji coba ini terjadi di pertengahan januari 2015 yang lalu.

DSCF7466-edited 02

DSCF7467-edited 02

Di resep aslinya adonan kerupuk puli dipipihkan menggunakan alat pemipih sederhana tapi jitu buatan sendiri. Saya tidak punya alat pemipih tersebut. Jadi kalau ingin kerupuk nasi yang pipih ya mesti digilas. Malas deh. Adonan kerupuk nasi yang sudah selesai dikukus dan diulek saya cetak di cetakan kue yang dilapisi cling film. Setelah adonan dingin kemudian saya iris-iris. Tapi hasil irisannya tidak bisa terlalu tipis. Sebagian adonan yang telah diiris itu akhirnya saya pipihkan dengan cara digilas di antara dua lembar plastik. Sebagian lagi saya biarkan apa adanya.  Adonan kerupuk nasi yang telah selesai diiris dan sebagian dipipihkan itu kemudian saya tata dalam baki besar. Lalu diangin-anginkan dan bakinya saya taruh di atas pemanas ruangan. Tidak saya jemur sebab di Belanda sedang musim dingin. Walaupun matahari kadang bersinar terik tapi tidak bisa dipakai untuk menjemur kerupuk. Dengan cara seperti ini kerupuk nasi mentah sudah kering dalam tiga hari.

DSCF7465-edited 02

DSCF7469-edited 02

DSCF7486-edited 02

Setelah itu tentu saja langsung saya goreng. Sebab saya penasaran sekali dengan hasilnya. Dan hasilnya tentu saja berbeda. Kerupuk yang dipipihkan lebih lanjut tentu saja teksturnya lebih renyah karena lebih tipis. Tapi kerupuk nasi tanpa bleng ini ternyata bisa mekar bagus dalam minyak panas. Dan kerupuk nasi produksi dapur saya ini tidak bertahan lama. Sebab sambil menggoreng sambil saya cemil-cemil juga. Tidak apa-apa. Kan sudah tahu cara bikinnya. Dan Belanda saat ini sudah masuk musim semi. Hawa sudah makin hangat. Dalam waktu dekat saya akan bikin kerupuk nasi tanpa bleng lagi. Kali ini hasil mentahnya pasti sudah bisa dijemur di teriknya sinar matahari.

* * * * * * *

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: