berkenalan dengan falafel

Kalau pergi, entah ke mana, sering saya melihat kafetaria Mediterania di sudut-sudut jalan. Biasanya si pemilik kafetaria mempromosikan menu jualannya dengan menempelkan stiker nama-nama makanan yang ada dalam menu mereka di kaca jendela kafetaria. Salah satunya yang sering saya temui adalah falafel. Dan sampai sebelum senin dua minggu yang lalu sungguh saya tidak tahu apa itu falafel. Dalam benak saya kok falafel itu jenis hidangan yang salah satu bahannya adalah daging. Mungkin daging sapi atau daging kambing.

Senin dua minggu yang lalu saya pergi ke Nijmegen. Setiap senin pagi hingga sore di salah satu pelataran besar di pusat perbelanjaan utamanya digelar pasar tradisional. Iya, pasar tradisional di Belanda tidak berlangsung tiap hari. Ada hari-hari tertentu. Para penjualnya datang dari berbagai kota. Jadi mereka bukan penduduk asli Nijmegen. Mungkin ada, tapi beberapa saja. Senin itu saya berniat mencari bahan baju untuk membuat kostum tari bagi murid-murid saya. Jadi saya mengajak mereka untuk ikut ke pasar di Nijmegen itu. Mungkin mereka bisa membantu memberi masukan, khususnya tentang padu padan warna.

Sesampainya kami di satu pojok pasar, murid-murid saya berseru kegirangan sambil menunjuk satu kafetaria. Mereka bilang, “Nanti, kalau sudah selesai cari bahan kostum, kita makan di situ. Retno mesti cobain juga makan falafel!”

Hooohh!! Segitu hebohnya?! Saya jadi penasaran.

Kira-kira satu jam kemudian kami selesai berbelanja kain. Yang kami beli baru bahan kain untuk bagian atas (blus) kostum. Untuk bagian roknya belum ketemu yang pas. Mungkin di jadwal pasar yang berikutnya. Jadilah kemudian kami makan siang di kafetaria falafel favorit murid-murid saya itu. Sayangnya saya tidak terpikir untuk memotret kafetaria itu. Kafetarianya sih kecil saja. Well, sewa ruangan di Belanda nggak murah. Apalagi di pusat perbelanjaan. Apalagi di pojok yang strategis letaknya.

Sesampainya kami di dalam kafetaria, saya suruh mereka memesan duluan. Saya baca-baca menu dulu sambil melihat apa yang mereka pesan. Hahaha… Yang mereka pesan ya falafel! Wong kafetaria itu kafetaria khusus falafel. Tapi menu falafelnya ada ragamnya. Papan menunya yang dipajang persis di atas meja saji cum kassa juga tidak sempat saya foto. Tidak terpikir, tepatnya. Tetap sama sekali nggak ada ide apa itu falafel, akhirnya saya menyerah. Saya nyotek mereka. Memesan menu yang sama dengan yang mereka pesan.

Ternyata yang dipesan itu begini: broodje falafel. Ada dua ukuran: biasa (medium) dan besar. Kami pesan yang ukuran biasa. Cuma itu? Iya, cuma itu. Kecuali kalau mau pesan kentang goreng juga. Tapi semua orang juga tahu apa itu kentang goreng. Kalau di Belanda dikenal sebagai patat atau frites (baca: frit). Untuk tambahan, kami pesan satu porsi kecil kentang goreng untuk diserbu rame-rame.

Dan ketika pesanan broodje falafel kami sudah selesai dibuat saya lihat, ternyata kok cuma pita bread yang dibuka (diiris horisontal 3/4 lingkaran) yang didalamnya berisi (kalau tidak salah) lima potong sesuatu yang digoreng. Bentuknya seperti perkedel kentang tapi padat. Dan gorengan mirip ketimus itulah yang disebut sebagai falafel.DSCF7745-edited 02

Lalu bagaimana caranya makan broodje (roti) falafel ini?

Di meja saji cum kasir di kafetaria falafel itu ada beberapa wadah berisi berbagai macam jenis sayur mayur yang menjadi bahan dasar salad. Ketimun yang diiris tipis-tipis, Wortel serut, bawang bombay dirajang tipis, daun slada yang sudah dirajang kasar, tomat diiris tipis-tipis. Selain itu juga ada beberapa wadah berisi berbagai macam saus dan dipping. Saus yang berbahan dasar yogurt, saus sambal khas Mediterania, saus mint dan apa lagi saya tidak ingat. Pembeli boleh mengambil sendiri jenis sayur mayur dan saus yang diinginkannya. Dimasukkan ke dalam roti pita terbuka yang jadi mirip kantong itu. Setelah puas mengisi kantong roti pita dengan pernak-pernik salad dan saus/dipping yang disuka, pembeli bisa mulai duduk untuk menyantap si broodje falafel itu. Enak!!

Sambil makan sambil ngobrol ngalor ngidul. Saya tanya mereka, terbuat dari apa sebenarnya falafel itu. Seorang murid saya bilang falafel terbuat dari tepung chickpea yang diramu dengan beberapa jenis bumbu Mediterania lalu digoreng. Hmmmm…

Setelah selesai makan di situ, kami pindah tempat tongkrongan. Ngopi dan ngeteh di Hema. Habis itu kami pulang. Malam harinya, di rumah saya browsing di internet. Pingin tahu apa tepatnya falafel itu. Mbah Kakung Google sungguh menjadi berkat tiada henti buat manusia-manusia jaman sekarang. Mbah Putri Youtube juga.

Jadi, ternyata falafel itu adalah gorengan ala mediterania yang berbahan dasar chickpeas yang diblender kasar (tidak sampai jadi pasta halus/lembut) bersama dengan beberapa jenis bumbu mediterania, dicampur dengan sedikit tepung terigu, lalu dibentuk bulatan-bulatan yang dipipihkan, mirip bentuk perkedel kentang Indonesia. Oalaahh! Rasanya enak! Saya suka. Dan seperti biasa kalau menemukan makanan baru, apalagi yang cocok di lidah, saya pasti ingin belajar membuat sendiri.

Banyak banget resep falafel di Google. Mata saya sampai berkunang-kunang, membaca sejumlah resep falafel. Saya memutuskan untuk rebahan di sofa depan teve. Pfffhhh… Intinya sih falafel itu terbuat dari bahan dasar: chickpea, daun mint, ketumbar bubuk, jintan bubuk, merica bubuk, cabe bubuk, garam, sedikit tepung terigu. Jadi bukan dari tepung chickpea seperti yang dibilang murid saya.

Keesokan harinya saya pergi membeli chickpea kering di sebuah toko Turki di dekat rumah. Kira-kira jam 8 malam saya merendam 1 cangkir chickpea kering dengan air secukupnya. Pancinya saya tutup. Chickpea ini direndam satu malam. Keesokan paginya air rendamannya saya buang. Tepatnya saya pakai untuk menyiram tanaman. Karena pasti ada zat hara yang terkandung di dalam air bekas rendaman chickpea itu. Jadi lebih baik dimanfaatkan untuk menyiram tanaman. Sekaligus menghemat air juga. Lalu si chickpeas dibilas air bersih. Lalu saya bubuhi bumbu-bumbu bubuk yang diperlukan. Lalu timbul satu masalah. Saya tidak punya daun mint. Saya punya daun basil tapi kebetulan baru beberapa hari sebelumnya saya pakai. Jadi masih botak. Daun seledri atau ketumbar saya nggak punya. Saya lihat di dalam lemari pendingin masih ada sedikit boerenkool (daun kale) cacah, sisa bikin boerenkool stamppot dua hari sebelumnya. Jadilah saya pakai boerenkool cacah itu saja. Yang penting falafelnya tetap berwarna kehijauan.

DSCF7740-edited

Setelah semua bahan selesai diblender kasar adonan falafel mesti diistirahatkan di dalam lemari pendingin sekitar 1-2 jam. Selama itu saya juga beristirahat. Tapi di sofa saja sambil nonton teve. Setelah satu jam, saya mulai menggoreng adonan falafel. Satu sendok makan munjung adonan falafel dibulatkan, dipipihkan kemudian digoreng dalam minyak panas dengan api sedang. Boleh percaya boleh nggak, saya tidak bisa membedakan rasa falafel yang dijual di kafetaria di Nijmegen itu, yang berbahan dasar daun mint, dengan falafel yang saya buat yang berbahan dasar daun kale cacah. Menurut saya falafel yang saya buat lebih enak dari yang dijual di kafetaria di Nijmegen. Bukan karena saya menggunakan campuran daun kale cacah. Tapi karena saya menggunakan bumbu-bumbu bubuk yang jumlahnya saya lebihkan dari yang diinstruksikan di beberapa resep online yang saya baca di internet. Misalnya, kalau diinstruksikan jintan bubuknya 1 sendok teh, maka saya gunakan 1 1/2 sendok teh. Begitu seterusnya. Dan karena falafel ini adalah jenis makanan vegetarian, jadi adonan mentahnya aman untuk dicicipi sebelum digoreng. Jadi kalau masih belum sreg dengan rasanya ya silakan disesuaikan sendiri dengan cita rasa pribadi. Ya kan?!

DSCF7742-edited

Setelah selesai menggoreng seluruh adonan falafel, tentu saja sudah waktunya mencicipi. Bohong deh. Sambil menggoreng pun saya sudah mulai dengan kesibukan mencicipi. Mana tahan menunggu sampai semua adonan selesai digoreng. Tapi ketika seluruh adonan sudah selesai digoreng, saya mencicipi serius dengan menyantapnya sebagai teman makan nasi. Tidak punya pernak-pernik salad selain ketimun. Jadi saya makan keringan: nasi putih panas, falafel, lalap ketimun dan plain yogurt yang dibubuhi sedikit garam dan lada hitam bubuk.

Makan yuk!

DSCF7745-edited 02

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: