nikmatnya membuat sendiri

Pagi ini saya duduk tenang di depan komputer, memeriksa daftar judul dari tulisan-tulisan yang pernah saya unggah di Kitchen Epic. Ternyata ada satu tulisan yang sebenarnya sudah selesai saya ketik, bahkan sudah lengkap dengan beberapa foto, tapi entah kenapa tidak saya unggah. Jadi saya unggah sekarang. Walaupun saat ini sudah tahun 2015, tapi tulisan ini aslinya bertanggal 10 februari 2014. Dan tetap saya anggap sebagai bagian dari tulisan di tahun 2014.

===================================================================================

10-02-2014

Akhir pekan kelabu yang baru berlalu saya nikmati dengan tinggal di rumah. Bangun siang. Bermalas-malasan. Sarapan DSCF4965-editedroti tawar dan yogurt. Dua-duanya bikinan sendiri. Auwww… Nikmatnya!

Roti tawar adalah jenis roti yang paling sering saya buat. Tentu kalau lagi kepingin bikin roti. Sebab ini satu-satunya jenis roti yang paling representatif untuk lidah saya dan lidah R. Kalau saya bikin jenis roti yang lain, belum tentu R mau menyantapnya. Apalagi dia bukan tipe orang yang suka ngemil. Bukannya nggak suka ngemil sebenarnya. Lebih tepat kalau saya bilang tidak bisa ngemil. Kalau ngemil, maka R kemudian tidak punya napsu makan lagi. Dan itu berarti jadwal makan malamnya mesti mundur 2-3 jam. Kalau istilah saya sih, waduknya kecil.

Kalau saya bikin roti tawar, dia bersemangat untuk ikut makan. Kalau saya bikinnya di akhir pekan seperti yang kemarin ini terjadi dia menyantapnya untuk makan siang. Dua helai dengan olesan mentega dan topping dua telur ceplok.

Saya menyantap si roti tawar cuma dengan olesan mentega. Dua kerat. Tapi itu karena saya juga ingin menikmati yogurt buatan sendiri. Yogurtnya saya beri campuran cornflakes dan sebuah pisang yang saya iris-iris 1 cm. O ya, yogurtnya saya suka tawar saja. Tidak dicampur gula atau madu. Saya memang tidak terlalu suka manis. Lagian rasa manisnya sudah saya dapat dari cornflakes dan pisangnya yang memang sudah matang benar.

DSCF4904-edited

DSCF4907-edited

DSCF5033-edited

Setelah selesai sarapan lalu saya menyeruput satu mug teh. Yang ini tidak benar-benar homemade. Tapi daun tehnya berasal dari perkebunan teh dekat kampung ayah saya. Daun tehnya disangrai tanpa dicacah terlebih dahulu. Jadi masih utuhan lalu disangrai. Ketika diseduh air mendidih dan didiamkan 5 menit, hasilnya adalah air teh yang bau sangit sangrainya semerbak. Sedapnya tiada tara. Sambil menyeruput teh sambil membayangkan kampung halaman ayah saya. Sambil kangen pada ayah dan ibu saya di sana. Aaahh… :’)

DSCF7523-edited

DSCF7521-edited

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: