Rotinya pemalas

Hahahaaa… ini sebutan saya untuk roti yang tadi pagi saya buat.

Sudah lama… sekali saya tidak bikin roti. I blame it on Mr. R… ;) Yup, sejak dia rajin dan rutin bikin roti, perlahan tapi pasti saya berhenti bikin roti. Lah… wong kerjaan saya sebagai tukang roti di rumah ini diambil alih sama dia. Jadilah saya beralih profesi. Menjadi tukang rajut dan tukang jahit. Yang jelas sih jadi tukang masak makan malam. Hihihi… Awas dia!!

Tapi kemarin malam tiba-tiba kangen bikin roti. Masalahnya kekangenan saya datangnya mendadak banget. Dan sudah agak telat. Kemarin itu sudah jam 20.40 kalau nggak salah. Kalau masih harus menimbang dan menakar, lalu nguleni, lalu proofing, dan seterusnya, mau selesai jam berapa? Saya sedang berusaha untuk tidak tidur terlalu larut. Sebisa mungkin tidak lewat jam 12 malam.

Lalu?

Gimana kalau bikin roti yang nggak pakai diulen-uleni segala dan ala artisan? Yup! Cari-cari resep di internet. Dapat satu yang super duper gampang. 3 cangkir tepung, 1/2 sdt ragi instan, 1 1/2 sdt garam, 1 1/2 cangkir air. Aduk-aduk sampai rata. Jangan lama-lama ngaduknya. Maksimal 1 menit. Sudah! Tutup wadahnya dengan cling film. Diamkan dalam suhu ruang selama 12-18 jam. Hahahaa… iyaaa… ini beneran kok. 12-18 jam. Makanya kalau mau coba bikin mending bikin adonannya malam-malam aja. Kalau ditinggal tidur kan jadi tidak terasa lama. Toh?!

DSCF4868-edited

DSCF4872-edited

Saya selesai mengaduk adonan tepat jam 9 malam. Tadi malam itu. Tadi pagi, jam 9, si adonan sudah siap untuk diproses lebih lanjut. Tuang ke meja dengan permukaan licin yang telah ditaburi tepung banyak-banyak. Kenapa? Sebab adonan roti tanpa diuleni ini sangat basah. Liat. Jadi kalau tidak dibantu banyak tepung, lengket ke mana-mana. Percayalah!

Pedomannya cuma satu. Jangan sekali-kali mencoba menguleni si adonan. Bahkan hindari sebisa mungkin untuk menekan si adonan. Agar gelembung-gelembung yang tercipta akibat proses fermentasi tidak pecah dan hilang. Tapi usahakan untuk membentuk si adonan menjadi bentuk bulat dengan tangan yang juga sudah ditaburi tepung. Lalu taruh adonan yang sudah dibentuk ini ke dalam sebuah mangkok besar yang telah dialasi kertas roti. Tutupi dengan serbet kering yang bersih atau dengan cling film. Sisihkan selama 30 menit.

DSCF4875-edited

Nah, semua resep no-knead bread yang saya baca semua mensyaratkan panci tebal Belanda sebagai media panggang si roti. Maksudnya, tidak hanya mesti dipanggang tapi si adonan roti juga mesti dimasukkan ke dalam panci tebal ala Belanda ini. Dan ditutup. Kenapa? Tujuannya untuk menciptakan uap di dalam panci bertutup. Uap yang dihasilkan dalam panci bertutup itu akan menghasilkan roti yang permukaannya kemriuk tapi tekstur dalamnya tetap lembut.

Kebetulan saya punya panci Belanda ini. Jadi saya menggunakannya. Masalahnya, saya tidak tahu bagaimana prosesnya kalau tidak menggunakan panci Belanda ini. Maksud saya, lama waktu memanggangnya jadi berapa lama.

Kalau pakai panci Belanda, pertama-tama oven harus dipanaskan dengan suhu 230° C. Biasanya selama 10-15 menit, hingga oven siap digunakan. Setelah oven mencapai suhu yang dimaksud, si panci Belanda (bertutup) dimasukkan ke dalam oven dan dipanaskan selama 30 menit. Ini masih tanpa si adonan roti di dalamnya loh. Nah, setelah 30 menit, si panci Belanda dikeluarkan. Buka tutupnya, lalu masukkan si adonan roti cepat-cepat ke dalam panci, tutup kembali dan masukkan kembali panci berisi adonan roti ke dalam oven. Panggang selama 30 menit. Setelah itu buka tutup pancinya dan lanjutkan memanggang selama 15 menit hingga roti matang, kuning kecoklatan dan permukaannya kemriuk.

DSCF4878-edited

DSCF4877-edited

DSCF4880-edited

Walaupun tidak yakin sama sekali tapi saya rasa kalau tidak pakai panci tebal Belanda bisa juga. Ini kalau mau mencoba loh. Dengan suhu yang sama. Begitu oven panas, si adonan roti dimasukkan ke dalam oven dan dipanggang dengan total durasi yang sama. Kalau khawatir permukaan roti akan terlalu cepat berwarna coklat bisa ditutupi dengan selembar aluminium foil selama 30 menit pertama proses pemanggangan. Setelah itu lanjutkan proses memanggang tanpa aluminium foil agar permukaan roti kuning kecoklatan.

Hanya saja hasil akhir roti yang dipanggang tanpa panci tebal Belanda akan berbeda dari roti yang dipanggang dengan si panci tebal. Bedanya terletak pada tektur permukaannya yang tidak kemriuk. Lalu bentuk si roti pasti tidak akan bisa sebulat roti yang dipanggang dengan panci Belanda. Sebab adonan roti tanpa diuleni ini kan tidak sepadat roti yang diuleni. Jadi sebenarnya panci Belanda ini berfungsi ganda sebagai semacam cetakan yang menahan adonan dari kemungkinan melebar ke samping. Dari segi rasa sih pasti sama.

DSCF4893-edited

DSCF4895-edited

Yang bikin saya nggak tahan, ngiler bener, adalah bau si roti. Karena proses fermentasi yang perlahan dan lama, maka bau roti yang tak diuleni ini jadi agak masam, khas proses fermentasi. Masam gimana gitu. Enaklah pokoknya. Nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Beda bangetlah dengan bau roti tawar yang diuleni dan cuma dikembangkan selama 1 jam. Apalagi kalau dibandingkan dengan roti tawar yang beli di supermarket-supermarket. Jauhlah. Ini nggak berarti saya nggak pernah lagi beli roti dari supermarket loh. Masih tetap beli. Tapi frekuensinya sudah jauh berkurang.

Roti yang tadi pagi saya bikin saya santap sebagai sarapan yang agak terlambat. Kalau pakai bahasa keren bilangnya brunch. Saya makan dengan olesan mentega berbumbu dan campuran minyak zaitun (olive oil mixture).

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: