panekuk Belanda

Setelah datang ke Belanda baru saya tahu bahwa Belanda punya panekuknya sendiri. Panekuk Belanda ini berbeda dari panekuk Amerika. Kalau panekuk khas Amerika agak tebal, terutama di bagian tengah, dan tidak terlalu lebar, maka panekuk Belanda justru lebar tapi tipis.

Walaupun lebih sering disantap sebagai makan pagi, tapi panekuk di Belanda, khususnya yang disajikan di restoran-restoran, juga disantap sebagai makan siang dan terutama makan malam. Yang saya tahu, restoran-restoran panekuk ini buka mulai dari jam 12 siang hingga jam 8 malam.

Yang paling menarik adalah panekuk di Belanda sini memiliki dua jenis variasi utama. Manis dan gurih. Saya rasa sih aslinya panekuk Belanda memiliki citarasa manis. Disantap sangat sederhana, dengan taburan gula tepung dan/atau dengan sirup gula yang coklat pekat warnanya. Namun dalam perjalanan sejarahnya kemudian hingga ke masa sekarang semakin banyak orang yang melakukan improvisasi. Dan kenapa tidak. Maka panekuk yang awalnya sederhana tersebut kemudian diberi berbagai macam taburan atau topping. Irisan pisang atau nanas atau stroberi. Bahkan kemudian juga diberi cipratan minuman beralkohol, atau dikenal sebagai liquor, semisal grand marnier. Saya pernah makan panekuk manis dengan topping irisan pisang yang dipadu dengan grand marnier. Sungguh lezat!

Ini kartu menu yang saya foto dari komputer, mengambil dari sebuah restoran panekuk di Arnhem, Den Strooper.

DSCF4654-edited

Lalu, kalau berimprovisasi dengan citarasa manis, kenapa nggak sekalian berimprovisasi dengan citarasa gurih. Maka kalau berkunjung ke Belanda, anda bisa menemukan panekuk dengan topping keju, bacon, ham, irisan-irisan beberapa jenis sayuran, seperti paprika, jamur merang dan tomat. Saya juga pernah menyantap versi gurih ini. Ini bahkan terjadi belum lama berselang. Yakni saat seorang mantan teman satu kos di Delhi dulu datang mengunjungi saya dan R.

2013-12-30 17.20.01-edited 04

2013-12-30 17.24.00-edited

2013-12-30 17.25.01-edited

Maka kami membawanya makan panekuk Belanda di sebuah restoran panekuk di Arnhem. Dia dan R memilih panekuk varian manis. Teman Jepang saya memilih panekuk dengan topping irisan pisang, kismis dan grand marnier. Sementara panekuk R sedikit lebih sederhana. Bertopping irisan pisang dan cipratan grand marnier. Petang itu saya kebelet makan sesuatu yang gurih. Jadilah saya memesan panekuk dengan toping spek (bacon) dan jamur merang. Oh.. enaaakk sekali!!

Tapi marilah kembali pada panekuk dasar. Bahan-bahan yang digunakan sangat sederhana dan mudah diakses. Tepung terigu, sejumput garam, sedikit gula halus, sebutir telur dan susu putih cair. Sedikit mentega atau minyak goreng dibutuhkan untuk melumuri atau mengolesi wajan datar yang akan digunakan untuk mematangkan panekuk.

DSCF6889-edited

DSCF6896-edited

O ya. Sejak beberapa waktu yang lalu saya sudah bisa membalikkan panekuk yang sedang dimatangkan dalam wajan datar di atas api itu tidak dengan bantuan sutil. Tapi dengan cara melemparkannya ke udara. Cara ini dilakukan dengan gerakan tertentu, sehingga ketika menggoyang wajan untuk melemparkan si panekuk ke udara, si panekuk akan membalik saat melayang di udara. Dan ketika si panekuk kembali ke wajan, sisi yang tadinya menghadap atas kini menghadap bawah, siap untuk proses pematangan lebih lanjut. Kemampuan baru ini bikin perkakas dapur yang mesti dicuci jadi berkurang satu. Aha!

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: