stollen Natal yang terlambat

Kemarin, hari minggu, saya bangun lumayan pagi. Dan setelah ritual pagi yang dipersingkat, saya mulai “bergaul” dengan mesin jahit. Seharian. Menyulap celana panjang denim milik R yang lututnya sobek menjadi sebuah tas. Ini namanya mendaur ulang. Tas yang kemudian saya beri nama “tas denim 10 jam”. Sebab membuatnya, dari awal hingga selesai, menghabiskan 10 jam. Lama ya? Soalnya nggak cuma menggunting dan menjahit jekejekejek… Tapi juga mesti memikirkan modelnya. Dan mencari-cari dan menentukan bahan lapisan bagian dalamnya.

DSCF4613-edited 02Selama itu juga, plus 2 jam lunch break, saya tidak bisa diajak ngobrol yang serius. Hanya topik-topik singkat sepotong-sepotong. Dan seharian R mesti menyibukkan diri dengan menonton teve dan main games.

Seperti kata orang tua-tua, kesabaran itu ada batasnya. Dan berbataslah kesabaran R.

Di penghujung hari dia tak betah lagi hanya harus puas menonton teve dan game yang itu-itu saja. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya di sofa depan teve, menuju ke lemari penyimpanan bahan makanan di bawah tangga. Cukup lama juga dia berdiri mengamati bahan-bahan makanan di sana. Mungkin tepatnya mencari sesuatu yang tak kunjung dia temukan. Akhirnya saya tak tahan juga untuk tidak bertanya. “Kamu cari apa?”

Dia menutup pintu lemari sambil membawa beberapa barang di kedua tangannya. Sambil berjalan ke dapur dia menjawab, “Saya mau bikin roti plintir seperti yang dibuat Paul Hollywood di acara yang kemarin kita tonton.” Saya cuma menyahut dengan “oh” sambil terus menjahit. Hampir selesai soalnya. Jadi malah tambah penasaran pingin cepat-cepat melihat hasil akhirnya.

DSCF4628-edited

Dan R berkutat di dapur kami yang maha mungil itu. Sepuluh menit kemudian mesin pengadon roti kami terdengar mulai bekerja. Lalu R kembali duduk di sofa depan teve, meneruskan menonton sebuah acara yang dia hentikan (pause) saat sedang sibuk di dapur, menimbang dan menakar bahan-bahan roti, tadi itu. Tapi lalu dia bilang bahwa dia mengubah rencana. Tidak jadi bikin roti plintir ala Paul Hollywood.

Oh?!

Dia bilang, “Jadinya saya bikin spijsbrood. Soalnya tadi saya lihat ada pasta almond di lemari. Kan mesti dipakai. Takut kadaluwarsa. Makanya akhirnya saya bikin semacam spijsbrood aja. Nggak pake resep. Cuma kira-kira sendiri aja.”

Weleh-weleh. Sudah makin canggih dia dan merasa nggak butuh resep. Hebat euy! Dan saya cuma ber- “oh… ok” saja.

Spijsbrood ini lebih dikenal dengan nama Kerststol kalau di Belanda. Sebab biasanya menjadi salah satu sajian keluarga di hari Natal. Aslinya dari Jerman, dengan nama Stollen. Roti ini adonannya dicampuri berbagai macam buah kering. Kismis, sukade dan kacang almond yang dicacah kasar. Di awal karirnya roti stollen ini dibuat nyaris tawar. Tapi dalam perjalanan hingga ke masa kini roti stollen ini kemudian dibuat menjadi sebuah roti yang manis dan berbumbu, sebab diberi campuran bubuk kayu manis dan kapulaga. Yang uniknya, bagian tengah roti ini diberi pasta almond yang dibentuk seperti silinder. Pasta almond ini di Belanda disebut sebagai amandelspijs. Mungkin karena itulah di Belanda sini Kerststol dikenal juga dengan nama “spijsbrood”.

DSCF4631-edited

Setelah stollen Natal aka spijsbrood itu matang muncullah satu masalah. Bagaimana cara menyimpannya? Tidak mungkin membiarkan roti enak ini di suhu ruang begitu saja. Tapi lemari pembeku kami juga sudah padat. Bahkan sampai tidak bisa merayap lagi. Emangnya jalan tol?

DSCF4629-edited

Akhirnya diputuskan untuk mengiris si roti menjadi 4 bagian. Satu bagian saya makan. Enak!!! Tiga lainnya masing-masing dibungkus kantong plastik dan dipaksamasukkan ke dalam freezer. Satu per satu nantinya akan dibawa R ke kantor sebagai sangu makan siang.

DSCF4652-edited

Sambil makan spijsbrood bikinan R yang masih hangat itu (nyaamm!!) sambil senang menikmati tas denim 10 jam yang akhirnya jadi. R puas dengan hasil karyanya. Dan sambil senang melihat saya makan satu bagian spijsbrood dia dengan lahap (padahal habis makan malam) R sibuk mengagumi tas bikinan saya. Senang kami berlipat ganda kemarin malam itu.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: