menyimpan cabe merah

Saya sedang melihat-lihat kembali foto-foto lama. Bukan apa-apa. Harddisk komputer mulai sesak. Saya mengalami kesulitan untuk mengedit foto-foto dengan menggunakan program Photoshop. Sebab untuk mengedit foto-foto itu diperlukan ruang juga. Kemarin program Photoshop menolak mengikuti instruksi saya dengan memberi peringatan disk penuh. Pfffhh…

Jadilah pagi ini saya melihat-lihat koleksi foto-foto dan mulai menyortir. Cukup banyak juga foto yang kemudian saya buang, terutama yang amat sangat tidak fokus. Ada juga beberapa foto yang sebenarnya bagus fokusnya, tapi tidak penting lagi untuk tetap disimpan.

DSCF8046-editedTapi menengok foto-foto lama ini bikin saya jadi “menemukan” kembali ide yang dulu pernah ada di benak saya ketika menjepretnya. Salah satunya adalah ide ketika menjepret cabe lombok. Cabe merah yang gendut-gendut.

Saya jadi ingat lagi dulu menjepret cabe merah ini untuk membuat tulisan tentang bagaimana cara menyimpan stok cabe merah.

Di Belanda sini, saat musim panas sayur mayur murah harganya. Termasuk cabe lombok, walaupun cabe merah gendut ini diimport dari Spanyol atau negara-negara berhawa panas lainnya. Terutama bila musim panasnya sukses. Hawa benar-benar panas dan tanaman sayur mayur tumbuh dengan suburnya berkat terik sinar matahari yang begitu mereka butuhkan. Bila yang terjadi seperti ini maka harga satu kilogram cabe bisa cuma 1 euro. Merdeka!

Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Biasanya saya beli cabe lombok ini banyak-banyak. Satu kilo. Kadang malah lebih. Cabe yang banyak itu tidak saya olah semua sekaligus. Saya termasuk jarang masak menggunakan cabe. Tapi kadang perlu sekali. Misalnya ketika tiba-tiba ingin membuat sambal tomat goreng atau tumisan sayur. Yang repotnya kalau keinginan yang tiba-tiba ini datangnya di musim dingin. Cabe mahal. Dan kalau cuaca sedang buruk rupa, saya malas pergi keluar rumah. Apalagi sekadar membeli cabe. Ogah!

Jadi walaupun jarang masak menggunakan cabe tapi tetap perlu menyetok cabe. Lebih untuk keperluan mendadak dan untuk keperluan di musim dingin.

Dulu, waktu baru mulai tinggal di Belanda, saya tidak tahu cara menyimpan bahan makanan segar. Di Indonesia kan tinggal beli sedikit, seperlunya, di pasar. Pasar tradisional dan supermarket buka 7 hari dalam seminggu. Lagipula, rumah orangtua saya kebetulan dekat sekali dengan pasar tradisional. Tinggal jalan 5 menit sudah sampai. Sehari, kalau mau, bisa bolak-balik ke pasar 10 kali. Sekalian nurunin berat badan. Tapi di Belanda sini, kalaupun mau begitu, tidak bisa juga. Cabe merah memang dijual juga di supermarket. Supermarketnya buka 6 hari seminggu. Minggu tutup. Tapi harganya itu dong… Satu wadah berisi 2 buah cabe lombok harganya 1 euro 50 sen. Meninggal! Sementara pasar tradisional cuma terjadi di hari jumat dan sabtu. Dan ya itu tadi. Kalau sedang musim dingin harga cabe pun jadi kurang bersahabat. Lalu dari kenalan Indonesia yang sudah lama tinggal di Belanda saya belajar cara menyimpan bahan-bahan makanan segar untuk keperluan stok. Caranya disimpan di lemari pembeku.

DSCF8044-edited

Lalu saya bikin metode sendiri. Belajarnya dari juru masak-juru masak dalam program memasak atau kuliner di televisi. Sesekali, di antara kesibukan melakukan aksi memasaknya, para juru masak itu juga menunjukkan cara menyimpan makanan dan/atau bahan makanan. Entah dengan cara dibekukan, entah dengan cara lain. Cara-cara yang diajarkan kenalan Indonesia saya dan cara-cara yang diajarkan oleh para juru masak dalam program masak/kuliner di televisi itu lalu saya gunakan.

DSCF8048-edited

Untuk menyimpan cabe merah, saya menggunakan plastik yang memiliki kolom tag. Saya tulis nama bahan makanannya berikut tanggal ketika saya mulai menyimpannya di dalam lemari pembeku. Tanggal ini penting. Terlebih bila kita menyimpan makanan yang sudah dimasak. Sebab makanan yang sudah diolah hanya bisa disimpan dalam lemari pembeku dalam jangka waktu tertentu. Biasanya 1-3 bulan. Bahan makanan segar bisa tahan lebih lama. Cabe merah bisa di simpan dalam lemari pembeku sampai 6 bulan. Beberapa jenis sayur, terutama yang berwarna hijau, perlu direbus 1,5-5 menit. Tergantung jenis sayurnya. Istilah perebusan sebentar ini dikenal dengan nama blanch. Sesudah itu langsung direndam sebentar dalam air es untuk menghentikan proses memasak yang terjadi akibat panas hasil rebusan. Lalu ditiriskan sebelum akhirnya bisa disimpan dalam lemari pembeku. Misalnya buncis dan kacang polong.

Mengapa demikian?

Sebab bila langsung disimpan di lemari pembeku jenis sayur mayur tersebut akan meneruskan proses pematangan/penuaan di dalam lemari pembeku. Terdengar cukup aneh tapi begitulah informasi yang saya baca dari internet. Jadi proses blanch ini dilakukan untuk menghentikan proses pematangan/penuaan yang dilakukan oleh si sayuran itu sendiri secara alamiah.

Selamat menyimpan bahan makanan.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: