Bubur brokoli

Sejak kecil saya hobi banget makan bubur.

Dulu, waktu saya masih sekolah di SD — SMA, sesekali saya minta dibuatkan bubur oleh ibu saya. Ibu selalu senang kalau anak-anaknya minta dimasakkan ini dan itu. Tapi kalau saya minta dibuatkan bubur, biasanya beliau akan tanya, apakah saya sakit atau sedang nggak enak badan. Soalnya kok sampai minta dibuatkan bubur.

Uhmmm.. saya nggak mengerti, kenapa bubur identik dengan orang sakit. Mungkin karena teksturnya yang halus dan tidak perlu dikunyah. Bisa langsung ditelan. Tepat seperti yang dibutuhkan orang sakit. Jawaban saya atas pertanyaan ibu tentu saja “tidak”.

Lalu ibu saya akan bertanya lebih lanjut, “Lalu kenapa kok kamu minta dibuatkan bubur?”

Gubrak!! *emang orang sehat nggak boleh ya makan bubur??*

Saya jawab sekenanya, “Lagi males ngunyah!” *wahahahaa… sebel!!*

Lalu ibu akan membuatkan bubur untuk saya. Dan saya menyantap bubur dengan lauk apa saja yang hari itu terhidang di meja makan. Ya seperti makan nasi dengan lauk. Hanya saja nasinya diganti dengan bubur.

O ya, satu lagi. Kenapa kalau orang sehat makan bubur lalu yang ada di benak cuma bubur ayam dan/atau bubur Manado? Padahal bubur nasi bisa disantap dengan apa saja. Misalnya ya itu tadi. Dengan lauk yang hari ini terhidang di meja makan.

Saya jadi teringat cerita seorang teman baik. Dia keturunan Cina. Suatu hari ketika saya berkunjung ke rumahnya, dia cerita begini:

Teman saya: Dulu, waktu ayah saya masih hidup, tiap pagi kami pasti sarapan bubur.

Saya: O ya? Kenapa kok tiap pagi sarapan bubur?

Teman saya: Sebab menurut ayah saya di pagi hari tidak lama setelah bangun tidur perut kita (baca: lambung) sebenarnya belum siap untuk bekerja keras menggilas makanan. Sebab, sama seperti mata kita, perut kita juga masih ngantuk. Dan kalau kita sarapan bubur, sebenarnya kita membantu perut untuk tidak langsung bekerja terlalu berat.

Saya: Oh gitu. Ya masuk akal sih. Lalu kalian makan bubur pakai apa? Atau bubur ayam? Tapi masa bubur ayam tiap hari?!

Teman saya: Nggak bubur ayam. Ya pakai lauk apa saja yang pagi itu terhidang di meja makan.

Saya: *manggut-manggut.*

Ketika teman saya cerita hal itu, saya kok sama sekali nggak ingat bahwa dulu saya punya kebiasaan yang mirip dengan cerita dia itu. Yang saya ingat kok malah film-film silat Cina yang dulu sering saya tonton. Sering kali ada adegan makan bubur ketika sedang menunjukkan salah satu kegiatan di pagi hari. Dan ini sebabnya kenapa saya menyebutkan identitas teman saya itu. Keturunan Cina. Sebab keras dugaan saya, kebiasaan almarhum ayahnya sarapan bubur ini adalah bagian dari tradisi Cina. Ini tentu karena saya mengaitkannya dengan adegan-adegan makan bubur di pagi hari dalam film-film silat Cina itu tadi. Dan sebenarnya, kalau dipikir-pikir lebih jauh berkenaan dengan alasan yang diberikan almarhum ayah teman saya itu, kebiasaan sarapan bubur ini adalah kebiasaan yang baik. Cara yang sehat dan bersahabat untuk memelihara organ tubuh.

Nah, kembali ke bubur dan saya.

Sekarang, ketika sudah menikah dan hidup jauh dari ibu, saya sering kangen makan bubur. Tapi tidak ada ibu yang membuatkan bubur. Jadi ya terpaksa bikin sendiri. Dan karena di Belanda sini semua harus dikerjakan sendiri dan tidak mungkin punya tenaga bantuan, khususnya untuk memasak, maka saya tidak punya banyak waktu dan tenaga untuk masak bubur dan lauk-pauk dalam satu hari yang sama. Biasanya sih saya bikin bubur ayam. Yang gampang. Ayamnya direbus. Kaldunya untuk merebus beras menjadi bubur. Daging ayamnya disuwir-suwir sebagai taburan dan lauk. Kalau kebetulan saya pas habis bikin cakwe ya saya kasih irisan cakwe juga. Lalu ditaburi daun seledri cincang. Buburnya saya bumbui garam dan lada putih.

Tapi kemudian saya bosan. Bosan juga dengan rasa ayam. Jadi sempat lama berhenti makan bubur. Walaupun masih tetap suka kangen. Kepingin makan bubur.

Lalu bagaimana?

Suatu hari kira-kira satu setengah bulan yang lalu seorang teman dari jaman SMA dulu cerita habis masak bubur ikan.

Bubur ikan??

Iya, bubur ikan.

Gimana cara bikinnya?

Ya bikin bubur nasi biasa. Ketika sudah matang, masukkan ikan tuna kalengan yang sudah ditiriskan dari air atau minyak rendamannya ke dalam bubur nasi. Aduk rata dan masak terus selama 2-3 menit. Matikan api. Hidangkan selagi masih panas.

Lalu saya coba. Bubur ikan tuna resep teman saya ini ternyata enak banget. Tapi saya selalu berusaha untuk makan sayur tiap hari. Maka bubur tuna yang saya coba buat, setelah matang dan saya tuang ke dalam mangkuk saji saya beri taburan daun ketumbar dan daun mint cacah. Ooohh.. heaven!

Tiga minggu yang lalu, kira-kira, saya kangen makan bubur lagi. Tapi ketika itu sedang tidak punya tuna kalengan. Yang ada cuma sekuntum brokoli dan dua buah wortel winter. Wortel winter ini jenis wortel yang raksasa. Khas belanda. Namanya di sini winterpeen.

Ah ya… bubur brokoli-wortel juga jadi. Kenapa nggak? Walaupun saya ini 200% karnivora, tapi saya juga nggak bisa tiap hari mengkonsumsi daging. Perut terasa lelah. Jadi seringkali saya masak sesuatu yang sebenarnya hidangan vegetarian. Dan kalau hidangan vegetarian ini sesekali dalam rupa bubur brokoli-wortel ya asyik juga kan?!

Dan ternyata rasanya enak sekali. Buburnya jadi terasa manis. Rasa manis ini berasal dari brokoli dan, terutama, wortel. Yang jelas ini makanan sehat.

Hari ini mendadak saya ingin makan bubur lagi. Kebetulan ketika tadi pergi belanja di supermarket langganan ada brokoli juga. Jadi saya beli. Tapi lupa beli wortel. Jadilah saya bikin bubur brokoli. Tanpa wortel.

DSCF0712-edited

DSCF0719-edited

Dan kebetulan saya punya kaldu daging sapi plus sekerat dagingnya juga. Jadi saya bikin buburnya pakai air kaldu daging sapi ini + 2 cangkir besar air biasa. Tapi biasanya kalau sedang nggak punya kaldu, saya pakai air biasa. Rasa buburnya jadi jauh lebih ringan. Berasnya satu cangkir sedang. Saya bumbui dengan 2 sendok teh garam dan 1 sendok teh lada hitam. Kalau nggak punya lada hitam, diganti dengan lada putih saja. Daging sapi rebusnya saya potong dadu. Saya cemplungkan ketika bubur setengah matang. Lalu kuntum-kuntum brokoli yang sudah saya cuci saya cemplungkan ketika bubur sudah matang, lalu direbus terus selama 10 menit. Setelah itu api saya matikan.

O ya, saya suka bubur yang tidak terlalu halus teksturnya. Bentuk nasi masih terlihat, tapi tentu jauh lebih lunak ketimbang nasi biasa.. Ini bubur yang masih perlu sedikit dikunyah. :)

DSCF0722-edited

Yang jelas saya tidak perlu masak dobel-dobel. Ya bubur ya lauk. Bubur brokoli — dan kadang-kadang pakai wortel juga — ini dalam bahasa Inggrisnya dikenal sebagai salah satu variasi one-dish meal. Satu hidangan yang sudah mencakup semua. Ya makanan pokok, ya lauk, ya sayur.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: