sabtu pagi, brownies dan macaroni schotel

Hari ini, Sabtu, saya bangun lumayan pagi.. jam 8.. haha.. Ya, buat saya jam 8 itu lumayan pagi. Wong hari Sabtu kok. Padahal tadi malam saya baru berangkat tidur jam setengah 2 pagi. Ron masih asyik nglungker. Biarlah. Dia juga butuh mbangkong. Jadi saya turun ke ruang teve. Setelah membuka gorden jendela depan, saya duduk di sofa depan teve. Nggak bikin teh atau kopi atau susu coklat. Cuma ingin menikmati senyapnya pagi hari musim dingin di Belanda. Hari masih gelap. Apalagi cuaca jelek. Hujan. Pakai angin pula. Huh! Bukan tanda yang menjanjikan akhir pekan yang ceria.

DSCF0050-editedLalu saya membuka buku novel yang sedang saya baca. Saya pinjam dari perpustakaan pusat propinsi kira-kira 3 minggu yang lalu. Buku dengan cerita yang sangat menarik. Berdasarkan kisah nyata yang mengharu biru. Tapi membacanya sempat telantar 2 minggu lebih. Sebab saya sibuk merajut, menjahit dan membenahi loteng yang sedang coba saya sulap menjadi ruang kerja kreatif. Jadi pagi ini saya meneruskan kegiatan membaca novel yang terbengkalai itu. Sampai kira-kira jam 10.30.

Lalu, tiba-tiba saja saya kepingin masak. Halah!! Dan sudah seminggu terakhir ini saya ngeces makaroni. Apapun. Termasuk terbayang-bayang macaroni schotel. Juga sudah seminggu penuh kepingin bikin cake untuk Ron. Menteganya malah sudah saya keluarkan dari kulkas hampir seminggu yang lalu. Terlalu!! Maksudnya sih biar lembek. Jadi mudah dimixernya. Alhasil si mentega lembek nganggur.

Enaknya bikin cake apa ya? Harus yang mudah. Nggak mau ribet pagi-pagi. Ahaa… Brownies.

Jadilah saya bangun dari sofa dan mengambil tepung, kismis, macaroni sikut (hahaha.. ini terjemahan tembak langsung dari elbow macaroni) dan cornet beef dari lemari penyimpanan makanan. Kemudian pergi ke dapur.

Hah.. saya mau kegiatan masak dadakan di pagi hari ini berlangsung sesingkat, seefisien dan seefektif mungkin. Dan o ya, karena oven saya kecil mungil, jadi memanggang brownies dan macaroni schotelnya harus gantian. Yang akan saya bikin lebih dulu adalah browniesnya. Sebab kalau macaroni schotelnya duluan yang saya buat, saya khawatir browniesnya akan beraroma macaroni schotel.. hehe…

DSCF0034-edited

Nah.. brownies kan sebenarnya cake coklat yang sengaja dibuat agak bantat. Jadi sebenarnya nggak perlu dimixer. Semua bahannya cukup ditimbang sesuai takaran resep, campur dan aduk jadi satu. Lalu tuang dalam loyang. Panggang dengan suhu 180 derajat Celcius dalam oven yang sudah dipanaskan sebelumnya. O ya, kismisnya saya rendam dalam air mendidih selama 15 menit dan tiriskan.

Instruksi kilat cara membuatnya kira-kira seperti ini:

Lelehkan mentega dan dark cooking chocolate atau coklat bubuk. Tambahkan gula pasir. Aduk hingga gula larut. Masukkan telur yang sudah dikocok lepas, aduk hingga tercampur rata. Masukkan tepung. Aduk rata hingga menjadi adonan yang lembut, tidak berbutir. Bila ingin menambahkan kismis, atau kacang cincang, inilah saatnya. Aduk rata sekadarnya. Tuang ke dalam loyang yang sudah diolesi mentega dan ditaburi sedikit tepung. Kalau saya sih malas amat. Kan tadi saya sudah bilang, saya mau kegiatan masak-memasak pagi tadi sesingkat, seefisien dan seefektif mungkin. Maka loyangnya tidak saya olesi mentega dan taburi tepung. Loyangnya saya lapis dengan kertas roti. Jadilah si loyang tetap bersih. Walaupun setelah brownies matang loyang tetap harus saya cuci, tapi nyucinya nggak perlu ngoyo. Sip?? ;))

DSCF0039-edited

Waktu memanggang cuma 25 menit. Sesudah memasang timer, saya pergi ke ruang duduk untuk menyapa dan DSCF0040-editedmengagumi tanaman sikas yang seminggu lalu mulai memunculkan 4 tunas daun baru. Habis itu saya kembali ke dapur dan mulai membuat macaroni schotelnya. Perkakas yang tadi saya pakai untuk membuat brownies, saya bilas air sekadarnya, lap sekadarnya agar kering, lalu saya pakai untuk membuat adonan macaroni schotel. Dengan cara ini saya tidak perlu mengotori terlalu banyak perkakas dapur. Nggak mood amatlah kalau harus nyuci perkakas dapur setumpuk di Sabtu pagi. Ugh…

Aduk, campur, aduk, tambah ini, tambah itu. Jadilah adonan macaroni schotel itu. Kebetulan banget pas adonan macaroni schotel jadi pas brownies matang. Jadi saya keluarkan dari dalam oven. Dan Ron bangun. Horeee..!! Sabtu-sabtu mbangkong. Bangun-bangun masuk dapur, niatan bikin kopi trus malah lihat brownies baru matang masih ngepul. Nyawa langsung kumpul semua. Dunia jadi cerah ceria mendadak. Dan Ron nyengir lebar bener… :))

Saya masukkan wadah tahan panas berisi adonan macaroni schotel ke dalam oven. Lamanya memanggang sebenarnya cuma sekitar 40 menit. Tapi oven imut saya selalu minta dikasih waktu ekstra. Jadilah total waktu memanggang macaroni schotel 60 menit. Setelah si macaroni schotel masuk oven, saya mulai membenahi dapur. Voila! Dalam tempo 10 menit dapur kembali sunyi senyap seperti tidak pernah terjadi kegiatan heboh apapun. Ron selalu takjub dengan keajaiban yang satu ini. Lalu saya pergi mandi dan bersiap-siap. Sebab hari ini tadi kami berencana pergi ke IKEA untuk membeli meja murah meriah yang akan kami taruh di loteng dan pakai sebagai meja komputer. Meja komputer yang lama saya sulap menjadi meja kerja kreatif untuk kegiatan menjahit dan merajut.

DSCF0045-edited

Macaroni schotel sudah matang dan sudah dikeluarkan dari oven. Dan pergilah kami ke IKEA. Ugh… rame bo’. Lebih padat di IKEA daripada di jalan raya. Setelah berjuang mencari si meja dan pakai acara tersesat-sesat pula di dalam gedung IKEA yang baru selesai diperbesar itu akhirnya nemu juga. Lalu masih harus berjuang juga. Ngantri bayar. Meja kassanya banyak. Semua penuh dengan antrian yang panjang. Ular naga. Begitu selesai bayar, cepat-cepat ngabur balik ke mobil di parkiran yang sudah dibuat menjadi gedung parkir bertingkat tiga. Full house. Ngapain aja sih orang-orang ini? Sabtu-sabtu bukannya santai istirahat di rumah malah memadati IKEA. Pada mau beli meja murah meriah juga kali.

DSCF0043-edited

Sukses keluar dari gedung parkir IKEA kami pergi membeli broodje kebab untuk makan malam Ron besok minggu dan habis itu kami pergi ke patat zak di kampung kami. Aneh ya. Sepagian berkutat bikin brownies dan macaroni schotel, habis itu saya malah kepingin patat sebagai makan siang. Beli untuk dibawa pulang. Sampai di rumah langsung copot jaket, copot sepatu, cuci tangan, ambil piring, tuang si patat dan tiga macam saus, nongkrong depan teve lagi sambil ngunyah-ngunyah. Makannya sambil merem melek. Enak banget patatnya didulet pakai mayonaise, saus tomat dan saus mosterd. Nyaaamm…

Buat yang nggak tau patat itu apa. Patat itu bahasa Belandanya kentang goreng alias french fries.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: