rajma: kari kacang merah dari Punjab, India

Pertama kali saya mencicipi rajma kira-kira 10 tahun yang lalu, ketika masih menjalani studi tari di New Delhi, India. Kalau tidak salah waktu itu diundang makan malam di rumah seorang senior saya. Dia asisten guru tari saya. Tidak hanya berbakat menari, dia juga berbakat memasak. Setelah mencicipi betapa enaknya kari kacang merah a la India ini saya minta resepnya. Dia memberikan. Saya mencatat dalam ingatan. Dalam hati. Dan bilang terima kasih.

Agak lama sesudah itu akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba membuat rajma. Sehari sebelum membuat, sekali lagi saya tanya senior saya itu untuk keterangan yang lebih detail. Dan sepulang menari saya mulai beraksi. Dan jadinya ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Malah membanggakan saya sendiri. Good job, Retno!! Keesokan harinya saya membawa rajma dalam satu wadah kecil untuk senior saya itu. Supaya dia mencicipi hasil masakan saya. Hahaha… dia memuji saya berkali-kali. Wowww… Retno, you really can cook Indian food now!!

Happy days!

Sejak itu, selama tinggal di Delhi, saya cukup sering memasak rajma. Sebab hidangan yang satu ini cocok juga disantap bersama dengan nasi putih panas ngepul-ngepul. Kalau menurut saya sih menyantap rajma malah lebih cocok dengan nasi putih panas ketimbang dengan chappati. Walaupun sangat suka roti, tapi perut Melayu saya memang lebih suka menerima nasi ketimbang roti. Kalau makan nasi, rasa kenyangnya beda. Kenyang yang memberi rasa nyaman dan melegakan. Halah!!

Berhubung malas mengetik resepnya, saya mencari saja resep rajma yang sama dari internet. dapat satu dari Seduce Your Tastebuds. Resep rajmanya bisa diklik di sini. Satu-satunya bahan yang tercantum dalam daftar di blog tersebut yang tidak saya pakai adalah bay leaf.

Kali ini pun saya memasak rajma ini dengan cara malas. Membeli kacang merah siap pakai dalam kemasan kalengan. Jadi tahapan mencuci, merendam dan merebus si kacang merah itu tidak perlu saya lakukan. Kalau mau lebih malas lagi, bisa membeli tomat cacah kalengan juga. Tapi yang terakhir ini kemarin tidak saya lakukan. Saya menggunakan 4 buah tomat segar ukuran sedang yang saya blender tidak terlalu halus.

Harus saya akui, tidak ada hal-hal instan yang bisa mengalahkan rasa rajma yang dimasak dengan cara yang asli. Yang tradisional. Air rebusan kacang merah memberi cita rasa yang pekat pada rajma. Air sari tomat memberi rasa segar yang nikmat yang tidak tergantikan oleh tomat cacah kalengan. Tapi di jaman sekarang ini tidak setiap kali kita punya banyak waktu untuk memasak makanan klangenan. Jadi kompromi harus dilakukan. Kenapa tidak? Dan besok-besok, bila kita sedang punya banyak waktu luang, kita bisa memasak hidangan yang sama dengan cara yang tradisional. Toh?

Rajma chaawal (rajma-nasi putih) paling enak bila disantap dengan salad mentah sederhana ala India: irisan bawang bombay ungu, tomat dan ketimun yang diberi beberapa tetes air jeruk nipis, taburan sejumput  garam dan lada hitam bubuk. Sayangnya saya sedang tidak punya persediaan bawang bombay ungu. Jadi saya pakai bawang bombay biasa yang kulitnya berwarna coklat. Rasanya beda. lebih tajam dan kurang manis. Tapi kan tidak ada rotan ya akarpun jadi. Next time better… :)

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: