makan malam yang menjadi tradisi

Ibu mertua saya sudah 27 tahun menjadi anggota sebuah paduan suara yang bermarkas di Arnhem, ibukota Propinsi Gelderland, Belanda. Sebuah paduan suara yang solid. Menyelenggarakan konser besar dua kali setahun. Satu kali di awal musim semi dan satu kali di awal musim dingin. Konser paduan suaranya selalu diselenggarakan di hari minggu siang. Biasanya konser dimulai jam 14.30 atau 15.00. Biasanya untuk durasi 1 jam. Tapi satu kali pernah sampai hampir 2 jam.

Tidak lama sejak saya mulai tinggal di Belanda sini  beliau bertanya apa saya berminat untuk datang menonton konser paduan suara tersebut. Dan beliau juga ikut menyanyi, tentu saja. “Oh.. ya! Mau!” Dan sejak itu saya selalu mendapat tiket masuk gratis dari ibu mertua. Kadang Ron, suami saya, ikut. Kadang dia cuma mengantar dan menjemput saya saja. Kadang kakak ipar saya dan suaminya datang menonton juga. kadang tidak.

Ketika pertama kali saya hendak pergi  menonton, entah kenapa dua hari sebelumnya tiba-tiba saya bertanya kepada Ron bagaimana si ibu mertua akan makan malam. Ron bilang, oh, saya tidak tahu. Sangat bisa jadi dia akan makan sesuatu yang mudah dan bisa cepat disiapkan.

Itu karena tidak lama setelah konser berakhir tibalah jam makan malam ibu mertua saya. Jam makan malam beliau antara pukul 17.00 — 18.30. Tapi biasanya beliau akan mulai makan pukul 17.00. Paling telat pukul 17.30. Sementara, setelah konser berakhir beliau tidak akan langsung pulang. Beliau akan berhandai-handai dulu dengan rekan-rekan sesama anggota paduan suara. Juga dengan beberapa teman dan kenalan yang datang menonton konser.

Hhmmm…

Lalu waktu itu saya tanya ke Ron. Apakah ok kalau kami mengundang ibunya untuk makan malam bersama kami di rumah. Jadi beliau tidak perlu repot dan tergesa-gesa menyiapkan makan malam sesudah lelah menyanyi di konser. Ron sangat setuju. Jadilah keesokan harinya saya sibuk memasak. Kalau nggak salah ketika itu saya membuat daging bungkus kol dan kentang rebus a la Belanda. Dan di hari H, setelah konser selesai, ibu mertua saya berencana untuk makan malam bersama kakak ipar (yang juga datang menonton) di rumah beliau. Pizza siap saji yang sudah mereka beli dua hari sebelumnya dan disimpan di lemari pembeku. Saya tanya kakak ipar saya, apa dia berminat untuk makan malam di rumah saya. Dia kaget tapi senang dan langsung menerima tawaran saya. Dan ketika ibu mertua saya datang menghampiri setelah selesai berpamitan dengan rekan-rekannya, kakak ipar saya menyampaikan undangan kejutan ini kepada ibunya. Ibu mertua saya yang sangat senang mendapat/menerima kejutan, kaget dan senang dan langsung setuju. Jadilah kami menuju rumah saya dengan menumpang mobil kakak ipar saya.

Itulah awalnya. Awal dari makan malam yang menjadi tradisi. Tradisi untuk ibu mertua saya, saya dan Ron, suami saya.

Sejak itu, setiap kali habis menyanyi di konser paduan suara, kami membawa ibu mertua saya pulang ke rumah kami untuk makan malam bersama. Kadang-kadang, kalau saya sedang malas masak, kami membawa beliau makan malam di restoran Cina — Indonesia favorit beliau. Kadang kakak ipar saya dan suaminya nimbrung juga, kalau mereka kebetulan bisa datang menonton konser.

Kemarin, 18 november, ibu saya tampil menyanyi lagi di konser paduan suara kelompoknya. Kebetulan kemarin itu saya tidak bisa datang menonton. Sebab kemarin siang saya juga ada tugas lektor di gereja. Tapi itu tidak menghalangi Ron dan saya untuk tetap menjalankan tradisi kami. Tradisi makan malam bersama ibu mertua sehabis konser paduan suara.

Tiga hari sebelumnya kami mengirim undangan lewat email. Tidak hanya kepada ibu mertua, tapi juga kepada kakak ipar saya dan suaminya. Sebab kami tahu mereka akan datang menonton. Kami juga mengundang anak laki-laki mereka dan keluarganya walaupun mereka tidak datang menonton konser. Untuk ibu mertua saya, undangan makan malam seusai konser selalu saja menjadi kejutan yang menyenangkan yang beliau sambut dengan senang hati. Kakak ipar saya dan suaminya juga bersemangat dengan undangan ini. Sayangnya anak laki-laki mereka dan keluarganya tidak bisa datang. It’s okay. There will still be next time.

Sejak beberapa bulan terakhir ibu mertua saya mengalami keluhan nyeri di perut bagian bawah dan mual ringan di pagi hari. Sudah periksa secara mendetail di dokter keluarga dan di rumah sakit tapi tetap tidak ditemukan penyebabnya. Suami kakak ipar saya baru seminggu mulai berdiet. Jadi saya juga ingin menyesuaikan menu makan malam sesuai dengan situasi mereka saat ini. Biasanya Ron dan saya memilih untuk memasak menu makanan Indisch untuk keluarganya. Sebab mereka semua sangat suka. Makanan Indisch ini adalah hidangan Cina — Indonesia yang rasanya sudah disesuaikan dengan cita rasa lidah orang Belanda. Rendang Belanda, sate ayam, pu yong hai dan nasi/bihun/bakmi goreng.  Tapi untuk seseorang yang sedang kurang sehat, sesekali mual ringan dan untuk mereka yang sedang menjalani laku diet, menu makanan Indisch kurang cocok.

Kali ini saya memutuskan untuk membuat ayam panggang, ikan filet, tumis jamur merang, kentang goreng, rauwkost atau salad sayur mentahan dan roti baguette yang diiris-iris dan diolesi herb butter. Semuanya diolah a la Eropa. Ayam panggangnya utuhan dan hanya saya bumbui dengan minyak zaitun, garam, lada dan daun thyme segar.

Ikan filet-nya saya bumbui minyak zaitun, garam, lada dan daun dille. Jamur merang saya tumis dengan bawang putih geprek-cincang, minyak zaitun, garam, lada dan daun seledri cacah. Rauwkost-nya saya buat dengan selada keriting hijau dan merah, tomat dan keju feta dan dengan saus dressing sederhana.

Ron membuat kentang goreng dari kentang segar yang dikupas, cuci bersih, dipotong, direbus 3 menit baru kemudian digoreng dengan sedikit mentega hingga matang dan bagian luarnya kemriuk. Nyaaamm.. Roti baguette dan herb butternya kami beli siap saji dari supermarket langganan kami.

Percaya atau tidak, mempersiapkan semua hidangan ini memakan waktu yang jauh lebih singkat dan tenaga yang lebih sedikit ketimbang mempersiapkan hidangan dengan menu Indisch. Saya juga menggunakan perkakas dapur yang lebih sedikit. Much less complicated. Tapi rasanya nggak kalah nendang dengan menu hidangan Indisch.

Makan malam tradisi kemarin itu benar-benar sukses besar!! :)))

Ketika semua perut sudah terpuaskan, yang tinggal hanyalah tulang-tulangan ayam panggang dengan sedikit daging menempel di sana-sini yang tentu saja tidak saya buang. Sebaliknya, saya simpan dalam wadah bertutup dan masukkan ke dalam lemari pendingin. Untuk lauk makan malam hari ini.. :) Hidangan lain ludes tandas!!

Sebelum, sambil dan sesudah makan kami sibuk ngobrol ngalor ngidul dan bercanda saling ngeledek. It was a really fun and relax evening for everybody. Selesai makan, kami duduk santai sambil ngobrol di ruang tivi. Menanti waktu acara tivi “Boer Zoek Vrouw” (Petani Mencari Istri) dimulai, pukul 20.20. Acara menonton “Boer zoekt Vrouw” ini juga penuh dengan komentar, seruan, celoteh dan gelak tawa. Seru banget. Dan tidak lama setelah selesai menonton acara tersebut pulanglah ibu mertua, kakak ipar dan suaminya. Mobil mereka menghilang ditelan gelapnya malam dan tebalnya kabut musim dingin. Ron dan saya kembali duduk santai menonton tivi sambil menunggu waktu tidur tiba.

Indahnya kebersamaan yang hangat.. :)

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: