nasi bakmoy

Rabu, 31 Oktober yang lalu saya pergi main ke Leiden. Itu salah satu kota pelajar di Belanda dengan universitasnya yang terkenal: Leiden Universiteit. Universitas Leiden. Saya ke sana untuk memenuhi janji bertemu dengan tiga teman. Satu orang senior saya ketika dulu studi Antropologi di Universitas Indonesia, Depok. Dia sedang menjalani program doktoral di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dengan program sandwich bersama Universitas Leiden. Yang satu lagi, sang tuan rumah, ternyata juga senior saya, tapi jauh di atas. Dan sejak lama tinggal menetap di Belanda. Yang terakhir adalah seorang mahasiswa S3 di UGM, Yogyakarta yang juga sedang menjalani program sandwich di Universitas Leiden bersama senior saya itu.

Seperti biasa kalau harus bepergian antar kota, saya pergi naik kereta. Untung janjian ketemuannya bukan di pagi hari. Jam 13.00 di Museum Etnologi di Leiden. Senior saya yang menjadi tuan rumah kami siang itu adalah salah satu staf di museum tersebut. Jadi siang itu kami diperlakukan sebagai tamu dia. Boleh masuk dan melihat-lihat  museum tanpa bayar. Asyik kan?! Senior saya menjadi pemandu. Mengajak berkeliling melihat-lihat di bagian Indonesia dan Jepang. Juga pameran tentang Cina dan tentang suku-suku Indian hidup di sepanjang pantai baratdaya Amerika dan Kanada yang saat itu sedang digelar di sana. Sangat. Sangat. Menarik.

Setelah selesai melihat-lihat museum, kami berangkat ke rumah senior saya yang menjadi tuan rumah kami siang itu. Dia mengundang kami makan siang. Sesampai kami di rumahnya, kami ngobrol-ngobrol santai dulu sambil ngemil biskuit dari Italia dan kacang sukro. Yang terakhir ini jelas produk Indonesia. Kegiatan yang asyik dilakukan sambil menunggu nasi matang. Kira-kira 30 menit.

Akhirnya nasi matang juga. Kami lapar! Langsung beranjak ke meja makan.

O.M.G.. !! Ternyata tuan rumah kami membuat nasi bakmoy.

Nasi bakmoy itu makanan masa kecil saya. Masuk dalam daftar makanan favorit saya. Menurut saya, yang paling enak sampai saat ini dijual di kota Pekalongan. Restorannya kecil. Untuk sampai ke restoran ini harus melintasi gang kecil yang cukup panjang dengan beberapa pojok berbau pesing menusuk. Pemiliknya keturunan Cina. Sejak saya kecil hingga terakhir kali saya ke sana di awal tahun 2012 ini restoran itu sama sekali tidak banyak berubah. Yang menjadi menu favorit di restoran kecil itu selain nasi bakmoy-nya adalah mie ayam (bisa minta pakai bakso dan/atau pangsit basah/goreng) daaaannn mie lo. Wah, yang terakhir ini paling favorit saya dari restoran itu. mie ayam dengan bumbu lo yang klentrek-klentrek itu. Dilengkapi dengan sambal kecapnya yang manis legit pedas. Selesai makan pasti kemringet. Segerrr…

Ha..ha..ha.. maaf ya, saya nglantur nih.

Gara-gara senior saya itu. Yang menyuguhkan makan siang nasi bakmoy itu. Rasa kangen saya akan rumah jadi terusik. Siang itu saya makan pakai nambah loh. Masih ingin makan bakmoy. apa daya perut sampai mblending. Kenyang! Lagian juga malulah kalau nambah lagi. Jadi sendok dan garpu saya tutup rapi di atas piring.

Tapi beneran deh. Rasa kangen pada makanan khas kota asal ayah saya ini belum tanak. Tapi Kamis, Jumat dan Sabtu sesudah 31 Oktober itu saya sibuk berat. Jumat saya mengajar tari. Sabtu lalu saya diminta untuk memberi demonstrasi tari. Demonstrasi super singkat. Tapi sesudahnya dilanjutkan dengan workshop 2 kali. Tidak hanya sibuk. Capek juga. Tidak sempat memasak. Jadi saya ampet-ampet. Tahan-tahan.

Hari Minggunya ternyata saya tidak terlalu lelah lagi. Jadi bersemangat untuk masak. Kebetulan saya masih punya satu potong tahu di lemari pendingin. Daging ayam tanpa kulit bagian dada juga hampir selalu ada di lemari pembeku. Saya keluarkan satu potong dan langsung rebus dengan air secukupnya. Air rebusannya saya cemplungi 2 iris jahe dan 2 siung bawang putih yang diiris-iris tipis.

Tahunya saya potong dadu kecil-kecil. Daging dada ayam tanpa kulit hanya saya rebus sekadar matang. Lalu saya tiriskan dan saya potong dadu kecil-kecil juga. Saya juga merebus 5 butir telur. Untuk bumbu topping bakmoy saya hanya memakai 6 siung bawang putih ukuran terbesar yang saya punya, geprek, rajang. Kalau di resep-resep yang saya baca di internet, kebanyakannya menggunakan ebi yang direndam air panas, ditiriskan lalu digerus halus sebagai bumbu tambahan. Tapi saya tidak pakai. Bumbu yang lainnya hanya kecap asin 2 sdm dan kecap manis 10-15 sdm.

Tahunya harusnya digoreng dalam minyak yang banyak hingga setengah matang. Tapi saya semakin menghindari terlalu sering menggoreng-goreng dengan minyak yang banyak. Jadi potongan-potongan tahunya cuma saya tumis dengan 3 sdm minyak goreng dalam wajan besar hingga setengah matang. hasilnya ternyata sama saja. Malah lebih sehat dan hemat karena minyak yang digunakan jauh lebih sedikit sedikit.

Panaskan 3 sdm minyak dalam wajan yang cukup besar. Masukkan bawang putih. Tumis hingga harum. Kalau menggunakan ebi, masukkan ebi, aduk rata dan tumis hingga harum. Masukkan potongan tahu yang sudah digoreng setengah matang, potongan daging ayam dan telur rebus yang sudah dikupas. Aduk rata. Tambahkan kecap asin dan kecap manis, garam dan lada. Kalau mau mengganti kecap asin dengan kecap ikan juga oke. Tapi jumlahnya diperhatikan. Sebab menurut saya kecap ikan lebih asin ketimbang kecap asin. Tuangkan 1-2 sendok sayur kaldu ayam. Kecilkan api. Masak terus hingga kaldu menyusut (diungkep). Cicipi rasanya. Matikan api.

Cara menghidangkannya (per porsi):
Taruh nasi panas secukupnya dalam mangkok mie ayam. Beri topping bakmoy secukupnya. Taburi dengan daun bawang rajang dan bawang goreng. Beri kuah kaldu. Bubuhkan sambal kecap. Santap selagi masih panas dengan mengaduk rata terlebih dahulu. Lebih nyaamm lagi kalau disantap dengan kerupuk putih/kampung.

Ayo makan!

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: