banana bread

Sudah lamaaaaa sekali saya tidak menulis di Kitchen Epic. Kangen! Dan akhirnya, sekarang, bisa duduk tenang di depan komputer untuk mulai menulis lagi di Kitchen Epic… :)

Pisang!

Saya suka sekali buah yang satu ini. Tidak menyegarkan. Tapi mengenyangkan. Hampir selalu ada di rumah. Tapi kadang, sudah dibeli, sudah dimakan beberapa buah, lalu bosan. Masih ada 2 atau 3 buah. Sampai kulitnya mulai menghitam, tak kunjung saya makan sebab bosan itu tadi. Tapi saya juga pantang membuang-buang makanan.

Lalu bagaimana? Sebab pisang yang sudah terlalu matang nyaris busuk tidak enak lagi dimakan begitu saja sebagai buah. Mau dibikin banana muffin (halaah.. sok keren. Bilang saja muffin pisang!) kok ya bosan juga. Mau dibikin bolu pisang aka banana cake, saya lagi malas repot. Kan pake dimixer-mixer segala. Ngebayanginnya aja sudah bete duluan. Adik saya bilang, “Dibikin banana bread aja, mbak!” Ahaa..!!

Banana bread. Roti pisang.

Sebenarnya sih bukan roti juga. Tetap saja cake. Bolu. Tapi dicetak di loyang persegi panjang yang mirip dengan loyang untuk mencetak roti tawar yang bahasa kerennya loaf bread itu. Saya bilang mirip sebab ukuran loyangnya tidak persis sama. Ukuran loyang roti tawar tetap saja lebih besar. Juga lebih tinggi. Tapi ah… kalau tidak punya loyang persegi panjang, loyang apapun jadi. Bahkan loyang tulban yang kecil juga oke. Masa harus keluar uang untuk beli loyang cuma untuk bikin roti pisang?! Itu namanya pemborosan. Kalau saya kebetulan memang punya. Jadi ya saya pakai.

Ini kali pertama saya bikin banana bread. Dan tidak punya resepnya. Jadi harus googling dulu. Kulonuwun Mbah Google. Dan seperti biasa, kalau habis masak-masak dengan mencontek resep dari internet, hampir selalu saya lupa mencatatnya. Sementara roti pisang ini saya buat sekitar 2 bulan yang lalu. Barusan saya coba cari lagi resepnya di internet, dapat satu yang rasa-rasanya memang saya pakai 2 bulan yang lalu itu. Dari sini. Tapi pisangnya saya cuma memakai 3 buah. Bukan empat seperti yang tercantum dalam resep aslinya. Sebab pisang yang ada di rumah ya tinggal 3. Saya juga tidak menggunakan buttermilk karena tidak punya. Jadi cuma menggunakan susu putih cair biasa dan kemudian saya campur air jeruk nipis. Semuanya sesuai takaran yang tertulis di resep asli.

Dan karena ketika itu saya sedang terserang penyakit malas, maka mentega dan gulanya tidak saya kocok dengan mixer. Menteganya saya lelehkan. Setelah agak dingin, saya masukkan gula ke dalam mentega leleh lalu aduk rata. Selebihnya mengikuti petunjuk di resep. O ya, kalau suka, bisa juga ditambahkan dengan kacang tanah sangrai cincang atau kacang almond cincang. Takarannya 100 – 150 gram. Atau sesuai selera.

Rasanya enak sekali. Cocok disantap bersama keluarga sebagai penganan sore ditemani secangkir teh atau kopi panas. Apalagi kalau di luar sana sedang hujan. Aah.. nikmatnya!

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: