sambal tomat goreng

Hampir setiap hari jumat saya pergi ke pasar tradisional di pusat Arnhem. Dan hampir setiap kali saya ke pasar saya pasti membeli tomat. Tomat yang dijual di pasar tradisional di Belanda sini lebih menarik. Warna merahnya paten. Tidak seperti warna merah tomat yang dijual di supermarket-supermarket. Yang sebenarnya lebih tepat dikatakan oranye ketimbang merah. Karena matangnya bukan matang pohon. Tomat dan sayur mayur lain yang dijual di pasar tradisional biasanya matang di ladang.

Nah, kadang-kadang, kalau saya membeli tomat, membelinya suka pakai emosi jiwa. Banyak! Apalagi kalau lagi musim panas dan cuaca musim panas hangat. Sebab berarti saya dan suami biasanya jadi rajin makan salad sayur mentahan ala Eropa. Di Belanda disebut sebagai rauwkost. Jenis sayuran yang biasanya saya pakai adalah 2-3 macam selada, tomat dan ketimun Jepang. Berbeda dengan ketimun Indonesia yang warnanya hijau pucat nyaris putih, ketimun Jepang kulit luarnya berwarna hijau tua.

Kadang-kadang, sudah membeli tomat dalam jumlah banyak, eh… tidak terlalu bernapsu makan rauwkost. Akhirnya tomat yang masih belum dikonsumsi jadi menginap terlalu lama di lemari pendingin dan mulai bonyok. Kalau sudah dalam kondisi begini, tentu tidak bisa lagi dipakai untuk membuat tumisan. Tapi saya pantang buang-buang makanan. Dan tomat, walaupun mentah, kan makanan juga. Atau lebih tepat dimasukkan ke dalam kategori bahan makanan, walaupun memang bisa dikonsumsi mentah sebagai buah atau sayur (lalapan). Jadi ya saya pantang buang para tomat yang sudah mulai bonyok ini. Lalu dibikin apa dong?

Ya satu dari sedikit jalan adalah dibuat sambal tomat goreng. Atau biasa disebut sambal tomat saja.

Bahan-bahan lain yang diperlukan selain tomat adalah bawang merah/bombay, cabe merah dan/atau cabe rawit merah, terasi (kalau suka), 5 sendok makan minyak goreng + 7 sendok makan minyak goreng, dan garam, tentu saja.

Hari ini tomat yang saya pakai agak kelewat banyak. Enam buah. Semuanya sudah mulai bonyok di sana-sini. Saya iris dadu besar. Cabe merah saya potong-potong sepanjang ruas jari. Kalau memakai cabe rawit merah, biasanya cuma saya belah dua. Di Belanda sini sehari-hari saya menggunakan bawang bombay. Jarang sekali memakai bawang merah Indonesia, walaupun mudah diakses. Bawang bombay dipotong dadu besar. Kalau memakai bawang merah Indonesia ya tidak perlu dipotong-potong karena sudah kecil. Kalau yang ukurannya cukup besar ya cukup dibelah dua saja. Terasinya 1 sendok teh atau sesuai selera. Kalau sedang tidak punya terasi, bisa diganti dengan teri nasi atau anchovy (teri yang ukurannya agak besar) atau secuil ikan asin. Saya goreng atau sangrai kering dulu, lalu tumbuk kasar. Kalau terasi tidak punya, dan teri nasi atau anchovy juga tidak tersedia, bisa memakai minyak bekas menggoreng ikan atau telur ceplok atau telur dadar. Hari ini saya tidak menggunakan terasi atau teri atau ikan asin. Minyak bekas menggoreng ikan atau telur pun tidak punya. No problemo!

Bawang merah/bombay, cabe dan terasinya (kalau pakai) ditumis dulu dengan 4 sendok makan minyak goreng sampai harum dan berkaramel. Baru sesudah itu tomatnya dimasukkan dan lanjutkan menumis sampai air tomat habis dan semua bahan layu dan berkaramel. Tambahkan garam secukupnya. Aduk rata. Matikan api dan biarkan hingga dingin.

Setelah itu semua bahan yang sudah ditumis diblender agak kasar. Kalau suka sambal tomat yang halus ya diblender sedikit lebih lama hingga halus. Kemudian panaskan 7 sendok makan minyak goreng dengan api sedang cenderung kecil. Tumis bahan sambal tomat yang sudah diblender. Aduk rata. Biarkan sampai sambal tomat mendidih dan meletup-letup lalu kecilkan api. Tumis terus sampai minyak memisah mengambang di permukaan dan warna sambal menjadi merah tua. Jangan lupa untuk sesekali mengaduk sampai ke dasar wajan agar bagian bawah tidak gosong. Bila sudah jadi, matikan api. Dinginkan.

Nah, satu tips bila tidak punya mesin blender.

Bawang dan tomatnya diiris dadu kecil-kecil. Cabenya dirajang halus. Cara ini membuat bahan-bahan ini jadi jauh lebih mudah hancur ketika sedang ditumis. Kalau setelah selesai menumis, bahan-bahan tersebut masih terlalu kasar, bisa dihancurkan dengan menggunakan sebuah garpu makan. Hasilnya sudah pasti tidak bisa terlalu halus. Tapi saya sendiri memang lebih suka hasil akhir yang masih agak kasar. Kenapa tidak? Menurut saya malah lebih enak ketimbang yang benar-benar halus.

Saya biasanya membuat dalam jumlah sekaligus banyak. Soalnya bikin sedikit atau bikin banyak toh jumlah waktu yang diperlukan kurang lebih sama. Jadi ya mending bikin sekaligus dalam jumlah banyak. Lalu saya simpan dalam botol yang sudah disterilkan agar tahan lebih lama. Lalu saya simpan dalam lemari pendingin. Sekali seminggu sambal tomat goreng ini saya panaskan sampai tanak dalam wajan kecil dengan menggunakan api yang paling kecil.

Sambal tomat goreng ini tidak hanya saya konsumsi sebagai sambal teman makan nasi panas + lalapan sayur mentah tapi juga saya gunakan sebagai sambal dasar untuk membuat bumbu balado.

Contohnya terong balado. Terongnya tidak saya goreng dalam minyak yang banyak. Kenapa? Karena terong sangat menyerap minyak. Jadi saya memilih untuk menumisnya dengan sedikit minyak hingga benar-benar layu. 3 buah terong ukuran sedang : 5-7 sendok makan minyak goreng. Setelah itu saya beri 2-3 sendok makan sambal tomat goreng (tergantung jumlah terong yang saya gunakan). Biasanya saya harus menambahkan sedikit garam karena rasa terong cenderung tawar.

Cara ini membuat hidup menjadi lebih praktis untuk dijalani. Lagian juga jadi lebih sehat. Ini kaitannya dengan jumlah minyak yang mesti digunakan untuk menggoreng menumis terong, misalnya. Selain itu, dapur juga jadi tahan bersih. Sebab tidak ada minyak panas yang memeletik-meletik ke luar dari wajan. Tenaga dan waktu yang saya gunakan untuk membersihkannya juga jadi jauh berkurang.

Cara ini saya terapkan juga bila ingin membuat kentang balado. Cara tradisional membuat kentang balado adalah, setelah kentang dikupas, dicuci bersih dan dipotong-potong sesuai selera, biasanya kemudian kentang digoreng dalam minyak yang banyak. Hmmm… Saya makin menghindari menggoreng apapun dalam minyak yang banyak. Selain memikirkan usia yang makin banyak dan kaitannya dengan kesehatan tubuh, saya juga sebisa mungkin menjaga agar kebersihan dapur bisa tahan lebih lama. Jadi kentangnya saya tumis dengan 4-5 sendok makan minyak. Percaya deh, si kentang lama kelamaan akan kering kemriuk juga. Tidak percaya? Silakan mencobanya. :)) Yang penting diingat adalah apinya jangan besar. Cukup api sedang saja.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: