sale pisang kering bikin sendiri?? kenapa tidak?!

Sale pisang manis kering — atau sale pisang — dari Pekalongan adalah satu dari beberapa cemilan manis yang saya gemari. Yang ini saya bahkan saya sulit untuk berhenti mengemploknya.  Pokoknya top!! :) Kalau sale pisang dari daerah lain saya kurang suka. Pisangnya sering terasa kesat, tidak manis. Lalu minyak yang dipakai juga sering terasa sudah langu.

Kenapa saya beri judul sale pisang kering? Sebab ada juga sale pisang basah. Dan saya sama sekali tidak suka sale pisang yang basah!

Seminggu yang lalu kami menerima kiriman paket dari Jakarta. Dari ibu saya. Isinya 99 % untuk saya. Cuma 1 % yang untuk Ron. Kue kering. Kasian deh! Yang untuk saya salah satunya 2 bungkus sale pisang dari Pekalongan!! Yuhuuu… Sale pisangnya sampai sekarang malah belum saya buka. Harus disayang-sayang. Dihemat-hemat. Cuma 2 bungkus. Dan sale pisang Pekalongan ini berkelana jauh untuk mencapai saya. Bayangkan! Pekalongan — Belanda! Jauh kan?!

Entah kenapa, tiba-tiba saya tertarik untuk googling. Saya memang hobi googling apa saja. Kali ini kata kunci yang saya googling adalah: “cara membuat sale pisang”. Saya tidak menyangka. Ternyata banyak loh link situs yang keluar. Setelah membaca beberapa situs untuk memperbandingkan, saya jadi tahu. Ternyata cara membuat sale pisang itu sebenarnya mudah sekali. Tapi membutuhkan waktu yang lama untuk memprosesnya. Hiks..

Pisang yang digunakan bisa apa saja asal yang manis. Setelah dikupas, pisang diiris 2-3 memanjang atau diiris bentuk kipas. Lalu dijemur selama 6 hari ketika matahari bersinar terik. Masing-masing sisi dijemur selama 3 hari hingga pisang mengering.

Berhubung di Belanda sini cuma ada dua jenis pisang yang bisa diakses, pisang ambon cavendish dan pisang tanduk (beli di toko oriental/Asia), maka saya pakai pisang ambon saja. Saya menggunakan 4 pisang ambon. Masing-masing saya iris jadi dua bagian. Masing-masing bagian saya iris menjadi 3 memanjang/horisontal tidak sampai putus dan kemudian dibentuk seperti kipas. Lalu saya taruh dalam loyang dan loyangnya saya bungkus dengan plastic foil.

Ide membungkus loyang dengan plastic foil ini sebenarnya sama sekali tidak brilian. Sebaliknya, bodoh! Sebab hawa panas yang terperangkap di dalam loyang tidak bisa pergi ke mana-mana dan membuat sisi bagian dalam plastic foil jadi mengembun. Embun kemudian menetes membasahi pisang yang sudah mulai kering. Pisangnya jadi basah lagi deh. Gak pintar kan?! Jadi sebaiknya ditutup dengan tudung saji saja. Tapi berarti pisangnya harus ditaruh dalam piring yang muat tertutup seluruhnya oleh tudung saji. Atau bisa juga memakai sepotong kain mori. Mengapa kain mori? Sebab cukup tipis tapi teksturnya cukup rapat. Kalau memakai kain serbet yang tebal panas matahari membutuhkan waktu lama untuk menembusnya. Mengapa pisang harus ditutup ketika sedang dijemur? Kalau tidak ditutupi, maka potongan-potongan pisang itu akan diserbu dan dikerumuni pasukan lalat buah. Iihhh… jijiK!

Yang terjadi dengan saya… hhmmm.. baru juga menjemur potongan-potongan pisang itu selama dua hari saya sudah patah arang. Jadi saya cari akal. Bagaimana kalau dikeringkan pakai oven saja? Tentu memakai suhu yang rendah. 100 derajat Celcius!

Jadilah si loyang berisi potongan pisang itu saya masukkan ke dalam oven yang sudah dipanaskan dengan suhu 100 derajat Celcius. Satu sisi saya panggang selama 45-60 menit. Hasilnya memang oke. Tapi listriknya itu loh!! Kalau kata ibu saya: kobol-kobol! Ahahaha…Bahasa apa ini? Yaaa… tapi kan ini percobaan. Saya sedang memuaskan rasa ingin tahu saya kok.

Kemudian, kalau menurut resep di internet, pisang yang sudah selesai dikeringkan itu harus digoreng dulu dengan minyak yang banyak. Habis itu ditiriskan dan dicelupkan ke dalam adonan tepung beras campur tepung kanji. Lalu digoreng lagi hingga kering dan menjadi sale pisang.

Waduhhh.. saya malas! Lagian jadinya kan akan terlalu berminyak kalau digoreng dua kali gitu. Jadi saya tidak menggoreng pisang yang sudah kering itu. Saya langsung mencelupkannya ke dalam adonan tepung dan kemudian baru menggorengnya hingga matang.

Ketika sudah tidak terlalu panas saya mencicipi satu potong sale pisang yang sudah matang itu. Rasanya?? Wahahaha… OMG! Ajaib! Persis seperti sale pisang Pekalongan. *Senang*

* * * * * * *

Advertisements

2 comments

  1. Salut banget….udah di Belanda masih berkreasi sale pisang …..ala Pekalongan lagi….

    1. halo Wayang Kulit.
      terima kasih ya sudah mampir dan kasih pujian.
      justru karena tinggal di Belanda maka saya tidak bisa mengakses sale pisang kapan saja saya ingin memakannya. kalaupun bawa dari Indonesia saat mudik paling2 cuma beberapa bungkus. itupun tak bisa disimpan terlalu lama. jadi harus cepat dihabiskan juga. jalan satu2nya ya bikin sendiri.

      salam.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: