appeltaart!!!

Dulu… saya lumayan sering bikin apple pie. Itu ketika saya masih tinggal di Jakarta. Lalu berhenti sama sekali membuat apple pie itu ketika sedang studi di Delhi, India. Alasannya sederhana. Tidak ada waktu, tidak punya tenaga sisa untuk membuatnya dan juga tidak punya oven. Bahkan keinginan untuk membuatnya pun tidak sempat terlintas di pikiran. Ketika periode pindah tinggal di Belanda terjadi, saya kembali terpapar dengan apple pie. Ternyata salah satu cake andalan orang Belanda adalah…. appeltaart! Dan itu adalah apple pie dalam versi Amerika dan Inggrisnya. :))

Di awal masa tinggal di Belanda sini saya pernah sekali membuat apple pie. Yang saya pakai bukan resep yang biasa saya pakai dulu di Indonesia. Tapi resep lain. Hasilnya?? Rrrrrrrrrrrrr…. crust base-nya terlalu manis. Bahkan suami saya yang sangat suka makan makanan manis pun berpendapat demikian.

Setelah itu…. trauma! Saya kapok membuat apple pie. Hahaha…

Tapi Belanda yang penuh ditumbuhi pohon apel — dan juga pohon pir sebenarnya – selalu sangat menggoda saya untuk kembali membuat apple pie. Bertahun-tahun saya tahan-tahan. Kemarin akhirnya tidak tahan. Dan saya pun membuat apple pie. Appeltaart, demikian orang Belanda menyebutnya.

Saya menggunakan resep apple pie dari blog uit de keuken van Levine. Beberapa hal saya ganti. Penggunaan gula untuk crust base-nya saya kurangi menjadi 80 gram saja. Dan itu ternyata sudah cukup manis. Untuk adonan isi, penggunaan apelnya tidak saya timbang. Saya menggunakan 4 buah apel. Satu apel Jonagold yang besar dan dua buah apel hijau Granny Smith ukuran sedang. Tapi seharusnya saya menggunakan dua apel Jonagold agar isi menjadi lebih munjung. Lebih padat.

Penggunaan gula untuk adonan isi justru saya tambah 2 sendok teh sebab apel Granny Smith yang saya pakai terlalu asam. Sementara saya tetap menambahkan 1 sendok makan air perasan jeruk nipis. Alasannya: rasa asam apel berbeda dengan rasa asam jeruk nipis yang segar. Intinya, bila membuat apple pie, cicipi adonan isi terlebih dulu sebelum menuangkannya ke dalam loyang untuk kemudian dipanggang. Dan bayangkan paduan rasa adonan isi tersebut bila kemudian bertemu (disantap bersamaan) dengan crust base dan crumble toppingnya ketika sudah matang. Bila di dalam imajinasi ternyata perpaduan rasa itu kira-kira sudah pas, baru menuangkannya ke dalam loyang yang telah dialasi dengan crust base.

Perubahan untuk crumble toppingnya hanya dengan meniadakan penggunaan kacang almond cincang. Sebenarnya saya punya stok almond. Tapi Ron tidak suka. Jadi tidak saya pakai. Penggunaan gulanya pun cuma gula pasir biasa dan jumlahnya saya kurangi menjadi 75 gram.

Saya memanggang appeltaart ini dengan suhu 175 derajat Celcius selama 60 menit sesuai instruksi dari blog asal resep ini.

Seperti biasa, quality control hasil masakan saya adalah suami saya, Ron. Dan untuk appeltaart ini tentu dia menjadi quality control yang mumpuni. Sebab dia sudah mencicipi berbagai macam appeltaart seumur hidupnya.

“Heel lekker!” kata dia.

Artinya, resep ini – tentu dengan semua perubahan di sana-sininya – mesti saya catat permanen di dalam buku catatan resep pribadi saya.  :))

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: