chhai… lagi!

I just can never get enough of it. It’s one form of many love affairs that I have with India.

Pertama kali saya mencicipi teh susu berbumbu khas India ini saya langsung jatuh cinta. Dan masih sering membuat dan menikmatinya hingga sekarang. Apalagi di hari-hari musim dingin. Atau bahkan di hari-hari musim panas. Ketika cuaca kurang bersahabat. Kelabu, basah dan dingin.

Pertama kali saya mencicipi teh susu ini bukan di suatu tempat di India sana. Tapi di Jakarta.

Kalau tidak salah ingat, ketika itu saya sedang bertandang ke rumah guru tari saya. Iya, gini-gini saya belajar tari klasik India loh. Kathak. Nah, ketika bertandang itulah saya disuguhi secangkir chhai yang sedap dan sepiring bola-bola roti isi kentang bikinan guru saya. Benar-benar enak dan nikmat. Aaahh… Sudah lama saya tidak membuat bola-bola roti isi kentang itu.

Kali kedua dan seterusnya, saya juga mencicipi chhai di Jakarta. Di rumah guru tari saya juga. Tapi dia guru kedua saya. Sebab guru pertama saya pulang kembali ke India. Masa tugasnya mengajar tari di Jakarta sudah selesai. Di rumah guru tari kedua saya itu saya mencicipi chhai yang sedikit lain.

Masing-masing rumah menghasilkan chhai yang khas rumah tersebut. Dan ini tidak mengherankan. Sangat wajar. Kan beda tangan beda rasa, bukan? Tapi ketika itu saya belum menyadarinya. Bahwa chhai yang disuguhkan memiliki rasa dan aroma yang sedikit berbeda antara rumah yang satu dan yang lainnya.

Lalu tiba saatnya saya mencicipi chhai di negara asalnya, India. Di New Delhi, tepatnya. Ketika itulah saya menikmati chhai dalam habitat dan suasana aslinya. Ah… memang tidak ada tempat yang paling nikmat untuk menyeruput teh susu berbumbu ini selain di India sana. Di pojok yang mana saja… Pokoknya di India.

chhai sold by a street vendor at India Gate on the Republic Day, January 26, 2012.

daily class, end 2001.

Juni 2001 saya berangkat menuju New Delhi sambil menenteng satu koper besar yang overweight. Siap untuk menjalani tiga tahun yang bakal penuh dengan hari-hari berpeluh. Hari-hari ketika tiada kerja saya selain menari dan menari. Berputar dan berputar. Hari-hari indah nan penuh kenangan. Aaahh… Dan tiga tahun itu kemudian ternyata menjadi empat tahun. How lucky! How blessed!

Jejak kaki pertama saya di tanah tumpah darah Mahatma Gandhi ini. Dan saya jatuh hati. Langsung merasa ada di rumah. Entah kenapa. Semua terasa wajar. Saya nyaris tidak mengalami masa transisi. Hanya satu hal yang membuat saya selalu sadar, saya tidak sedang ada di Indonesia. Setiap kali saya berbicara saya harus berpikir keras. Ya… setiap kali bicara, kata-kata yang keluar dari mulut saya adalah kata-kata dalam bahasa Inggris. Bukan Bahasa Indonesia.

Kemudian saya jatuh hati pada chhai. Lalu diikuti dengan jatuh hati-jatuh hati yang lainnya. Sungguh satu babak kehidupan yang penuh dengan jatuh hati dan perselingkuhan menggairahkan.

Keberadaan saya di sana tentu tidak saya sia-siakan hanya untuk belajar menari. Menari tetap nomor satu dan utama. Namun saya belajar memasak makanan tradisional India juga. Dan tentu saja belajar membuat chhai. Semua saya pelajari dari guru terbaik, teman-teman lokal saya, orang-orang India.

Mulailah saya bertandang, mengunjungi si itu dan si anu… orang-orang India itu. Tidak sekadar bersilaturahmi. Tapi juga untuk belajar. Budaya, tradisi, cara hidup dan bahasa tubuh mereka. Sebab penting untuk studi tari saya. Sekaligus penting untuk keperluan belajar memasak dan membuat chhai. Aha! Jadi akhirnya saya jadi tahu, memahami dan menyadari. Bahwa setiap rumah menyuguhkan rasa dan aroma chhainya masing-masing. Yang khas rumah itu.

Ketika jatuh cinta pada seseorang atau sesuatu, tentu kita tidak mengukurnya dengan ukuran dan takaran baku. Yang bersandar pada matematika. Alat ukur dan takar satu-satunya adalah perasaan dan nilai rasa. Demikian juga setiap kali saya membuat chhai. Saya tidak pernah mengukur dan menakar bahan-bahan yang saya butuhkan untuk membuatnya. Alat yang saya pakai adalah tangan saya. Tolok ukurnya nilai rasa. Sedap!

Air, susu cair full cream, jahe, kayu manis (cinnamon), kapulaga hijau (green cardamom), gula pasir, teh Assam dan tentu saja sebakul cinta. Kalau mau, bisa menambahkan cengkih (cloves) juga. Saya hanya sesekali melakukannya.

Airnya direbus dengan api besar bersama jahe yang digeprak, kayu manis, kapulaga hijau (dan cengkih) hingga mendidih. Setelah mendidih, masukkan teh bubuk Assam dan rebus terus hingga air teh mendidih lagi. Lalu kecilkan api dan biarkan mendidih selama 5 menit hingga air teh menjadi coklat kehitaman. Pekat. Masukkan susu cair dan gula secukupnya, aduk dan rebus hingga chhai mendidih dan rebus terus selama 5-7 menit hingga warnanya menjadi cukup pekat. Jaga agar chhai tidak meluap tumpah. Cicipi rasa manisnya.

Siapkan beberapa cangkir kecil. Tuangkan chhai ke dalam masing-masing cangkir dengan menggunakan saringan teh. Sajikan selagi panas.

Bila ada yang tidak suka manis rebus chhai tanpa membubuhkan gula. Biarkan masing-masing pemilik cangkir membubuhkan gula sesuai selera dan kebutuhan ke dalam cangkirnya masing-masing. Siapkan saja semangkuk gula pasir dan sendok kecil untuk mengaduk. It’s a win-win solution. Happy day!

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: