selai nanas

Sesekali saya membeli nanas dari supermarket langganan atau di pasar Arnhem. Di musim panas harganya murah. Bisa cuma 1 euro per buah. Bahkan di puncak musim panas bisa dapat dua buah hanya dengan membayar 1,50 euro. Murah untuk ukuran Belanda. Dan ukuran nanasnya juga besar.

Biasanya saya makan begitu saja. Dikupas, dibuang matanya, dibuang bagian tengahnya yang keras dan membuat lidah gatal. Kalau di Indonesia, nanas yang sudah selesai dikupas bersih biasanya dilumuri dan dikosok sekadarnya dengan garam halus. Kemudian dibilas dengan air matang. Tujuannya untuk menghilangkan getah buah yang masih tersisa dan menyebabkan lidah gatal sesaat setelah mengkonsumsinya.

Dua minggu lalu saya membeli nanas. Dua buah. Musim panas belum lagi mencapai puncaknya dan harga nanas sudah demikian murah. Dan saya lapar mata.

Dua hari setelah nanas saya beli, saya kupas satu. Saya habiskan sendiri dalam dua hari berturut-turut. Segar!

Nanas yang satu lagi teronggok begitu saja di wadah buah. Tidak kunjung saya sentuh. Sampai akhirnya kulit luarnya menghitam dan jadi buruk rupa. Tapi saya pantang membuang makanan.

Si nanas yang sudah buruk rupa itu saya bawa ke dapur dan mulailah saya kupas. Ternyata bagian dalamnya masih bagus.  Cuma sedikit di bagian pantatnya agak hitam. Saya buang bagian itu. Sambil mengupas si nanas buruk rupa itu saya terbayang selai nanas. Hhmmm…

Selesai mengupas nanas, saya potong dadu. Lalu saya blender halus. Setelah itu saya tuang ke dalam wajan dengan api sedang. Saya beri sekitar 50 gram gula pasir, 1 potong kayumanis dan 3 buah cengkih dan kemudian saya aduk rata.

Setelah adonan nanas mulai mendidih, api saya kecilkan dan teruskan memasak si calon selai nanas. Warnanya berangsur menjadi kecoklatan dan mulai mengental juga. Saya cicipi. Saya tidak terlalu suka manis. Tapi menurut saya rasa si calon selai nanas ini kurang pas manisnya. Saya tidak menambahkan gula pasir, tapi madu. Kira-kira 1 sendok makan. Juga saya tambahkan 1 potong kayumanis dan 3 buah cengkih lagi. Lalu saya aduk rata. Api tetap sekecil mungkin. Sesekali diaduk rata, terutama agar bagian dasar tidak menjadi gosong. Hingga si selai mencapai kekentalan yang saya inginkan, barulah saya matikan api dan saya biarkan hingga dingin. Sesudah itu saya masukkan ke dalam wadah bertutup dan saya simpan di lemari pendingin agar tahan lebih lama.

Selai nanas ini enak dipakai sebagai olesan roti tawar untuk makan pagi.

Dan bila selai nanas ini dijerang lebih lanjut di atas api kecil dan sesekali diaduk rata, maka kekentalannya jadi lebih pekat dan warnanya juga jadi lebih gelap/pekat. Saya menyebutnya sebagai konsentrat nanas. Konsentrat nanas ini bisa digunakan sebagai isi nastar cookie atau topping thumbprint cookie.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: