nasibal

Itu bahasa Belanda. Artinya bola-bola nasi.

Saya kagum dengan penemuan yang sungguh kreatif ini. Menurut dugaan, nasibal ini, dan juga bamibal (bola-bola mie), diciptakan karena adanya nasi goreng, atau bakmi goreng, yang berlebih. Daripada disimpan atau dibuang, lebih baik dibuat sesuatu yang lain. Lagian kebanyakan orang Belanda tidak makan makanan yang sama dua hari berturut-turut. Kalau mau dibuang, sayang. Makanan masih bagus kok dibuang. Dosa. Jadi, ada baiknya dibuat satu jenis makanan yang sedikit lain.

Lagian, nasibal, dan juga bamibal, lebih mudah dan lebih praktis untuk disantap. Tidak perlu (sendok-) garpu dan pisau. Cukup tangan yang bersih. Selain itu juga portable. Mudah dibawa. Misalnya ke sekolah atau ke kantor, sebagai santapan makan siang, karena memang mengenyangkan.

Rasa penasaran saya bermula ketika saya baru pindah tinggal di Belanda sini. Saya lihat di setiap pusat perbelanjaan, kafetaria-kafetaria (Ingg. snack bar) yang ada menyediakan juga tembok penjaja. Baru setelah datang ke Belanda sini saya tahu ada tembok penjaja. Norak ya?!

Saya tanya sama Ron, itu yang dijual di dalam tembok penjaja itu apa saja. Dia menyebutkan beberapa jenis penganan. Frikandel, kroket, nasibal, bamibal.

Nasibal? Bamibal?? Apaan tuh?

Ron merogoh dompetnya, menyodorkan beberapa koin dan memberikannya ke saya. Ayo kita beli sesuatu dari tembok penjaja itu. Kemudian saya bingung. Bingung memilih, saya mau beli apa. Frikandel, kroket, nasibal atau bamibal? Sebenarnya saya ingin coba semua. Tapi kok terkesan rakus. Lagian, pasti nggak akan muat di perut.

Entah apa yang saya pilih ketika itu, tapi yang jelas bukan nasibal dan bukan juga bamibal. Saat itu ide makan nasi dan/atau makan bakmi yang dibuat seperti bola-bola masih terlalu aneh buat saya. Jadi pasti ketika itu saya memilih frikandel atau kroket.

Tapi ketika itulah rasa penasaran saya mulai muncul. Bagaimana caranya membuat bola-bola dari nasi dan dari bakmi kemudian digoreng dan tidak jadi hancur dalam minyak panas yang banyak?

Lama sesudah itu akhirnya saya mencicipi nasibal dan bamibal juga. Enak. Rasa kari.

Lalu sejak tahun kemarin, 2011, kami punya tradisi beli nasibal dan bamibal di satu kafetaria di kota Velp di provinsi Gelderland. Nama kafetarianya: Autumatiek Beursken. Saya menyebutkan secara detail nama provinsinya, sebab di Belanda ada dua kota Velp. Yang satunya lagi di provinsi North Brabant. Jauh dari tempat tinggal kami.

Terakhir kali kami pergi membeli nasibal dan bamibal di kafetaria itu kira-kira dua minggu yang lalu. Waktu itu hari minggu.

Saat itulah rasa penasaran saya memuncak. Sambil menggigit dan mengunyah nasi- dan bamibal, saya melihat dan mengamati tekstur si bola-bola nasi dan bakmi. Hhmmm… Lalu saya bilang sama Ron, saya akan mencari tahu bagaimana cara membuatnya. Saya ingin mencoba membuatnya. Setidaknya bisa saya mulai dengan mencoba membuat nasibal. Karena saya jauh lebih sering memasak nasi, walaupun sekadar nasi putih, ketimbang membuat bakmi goreng.

Kemudian saya mulai menjelajah dunia maya, browsing di internet. Lumayan ada beberapa resep di sana. Tapi hanya satu yang menarik perhatian saya dan menurut saya bisa dipercaya akan memberi hasil yang oke. Resep nasibal itu saya dapat dari situs Indochef.

Tapi si penulis di situs Indochef itu tidak menyebutkan bagaimana harus membuat nasi gorengnya. Mungkin any nasi goreng will do. Tapi saya ingin mencoba membuat nasibal dengan rasa seperti rasa nasibal yang dijual di Automatiek Beursken itu. Hhmmm… Banyak maunya. Rumit ya?! Hahaha… Saya punya alasan untuk itu. Nasi goreng yang biasa saya buat kan versi Indonesia. Sedangkan nasi goreng yang menjadi bahan dasar nasibal itu versi Belanda. Rasanya rasa kari yang tipikal Suriname. Well, ini dugaan saya loh. Karena rasa karinya beda dengan rasa kari Indonesia. Beda juga dengan rasa kari India. Dan di Belanda sini banyak pendatang yang berasal dari Suriname. Boleh dong menuduh. Ini kan tuduhan yang positif.

Saya membuka lemari dapur untuk mengambil garam. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada satu kaleng kecil dengan judul bumbu nasi goreng produksi Maggi. Ini pasti Ron yang beli. Saya tidak pernah beli produk-produk seperti itu. Saya buka tutupnya dan membauinya.

Hahh?? OMG!!

Baunya persis bau nasibal, dan juga bamibal, yang dijual di Automatiek Beursken. Ini faktor kebetulan yang sungguh aneh. Tapi jelas menggembirakan. :))

Lalu saya bilang Ron, sekarang saya bisa mencoba bikin nasibal. Saya sudah menemukan bahan terpentingnya. si bumbu nasi goreng Maggi. Senang!

Kemarin adalah hari H-nya. Siang-siang saya masak nasi. Lalu saya biarkan menjadi dingin. Sementara itu, saya berkutat meneruskan membuat kering tempe-kentang. Baru sorenya saya mulai mengolah si nasi putih menjadi nasi goreng dengan menggunakan bumbu siap pakai produksi Maggi itu.

Tahap selanjutnya membuat adonan pelekatnya. Setelah jadi barulah nasi goreng yang sudah dingin dimasukkan ke dalam wajan berisi adonan pelekat. Aduk hingga benar-benar tercampur rata. Kemudian angkat dari api dan sisihkan agar agak dingin. Kemudian tahap membentuk adonan nasibal menjadi bola-bola. Setelah itu melumuri semua bola-bola nasi dengan tepung terigu, telur kocok dan tepung panir. Yang terakhir ini prosedur standard saja.

Setelah semua bola-bola nasi selesai dilumuri dengan tepung terigu, telur kocok dan tepung panir, saya menyimpan dan mengistirahatkan nasiballen (bentuk jamaknya dalam bahasa Belanda) itu di dalam lemari pendingin selama 20-30 menit. Fungsinya agar nasibal menjadi cukup kaku dan hasilnya setelah digoreng menjadi lebih oke. Setelah itu baru saya goreng. Bagus loh. Nasibal yang sedang digoreng itu tidak hancur di dalam rendaman minyak panas. Wow! Hasilnya setelah digoreng pun bagus. Hore!

Ron adalah orang yang paling gembira. Apalagi perutnya sudah keroncongan. Tiga buah nasibal habis dilahapnya kemarin malam.

Review dari Ron dan saya:

1. dari segi rasa, rasa nasibal bikinan saya sangat mirip dengan rasa nasibal yang dijual di kafetaria Automatiek Beursken.

2. dari segi warna, berbeda. Sebab tepung panir yang dipakai oleh Automatiek Beursken untuk melumuri nasi-dan bamibal produksi mereka berwarna oranye. Sedangkan tepung panir yang saya pakai warnanya ya warna coklat muda biasa. Beli di mana ya tepung panir warna oranye itu? Aah.. nggak penting juga kok.

3. dari segi tekstur kulit/permukaan (Ingg. coating), tekstur bagian luar nasibal produksi Automatiek Beursken lebih tebal dan sangat kemriuk (Ingg. crunchy). Sementara, tekstur bagian luar nasibal bikinan saya tidak.

Kesimpulan kami:

1. Percobaan membuat nasibal ini bisa dibilang sukses.

2. Lain kali, kalau membuat nasibal lagi (atau mungkin bamibal), coatingnya akan saya buat dua kali. Bukan tepung terigu – telur kocok – tepung panir. Tapi tepung terigu – telur kocok – tepung terigu – telur kocok – tepung panir. Pasti hasilnya akan jadi lebih mirip lagi.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: