kering tempe

Saya ini penggemar kering tempe. Khususnya yang dibuat oleh ibu saya. Kalau ibu saya yang bikin, tidak hanya pakai tempe, tapi juga kentang. Jadilah kering tempe-kentang.

Sejak kembali dari Indonesia awal april yang lalu saya lumayan jarang makan masakan Indonesia. Tapi sebenarnya juga malas masak masakan jenis lain. Ingin yang praktis-praktis saja.

Tapi kamis minggu yang lalu seorang teman baik datang bertandang. Ketika sedang ngobrol-ngobrol, dia bilang ingin menunjukkan beberapa foto yang dijepretnya di Paris beberapa waktu yang lalu. Foto-foto itu tentang satu bakery event yang kebetulan sedang digelar ketika dia di sana. Sedang asyik-asyiknya menonton foto-foto bakery event di Paris itu, tiba-tiba yang tampak di layar kamera digital dia foto kering tempe.

Lalu berceritalah dia tentang usahanya membuat kering tempe yang menurut dia kurang sukses. Dari segi rasa, kering tempe yang dibuatnya itu not bad. Lumayan enak. Tapi dari segi visual, sangat tidak seperti yang diharapkan atau dibayangkannya. Tidak kering sama sekali. Malah basah. Sampai-sampai, tempe yang sudah dia goreng hingga kering kemriuk jadi basah lembek setelah dimasukkan kembali ke wajan dan dicampur dengan bumbunya. Tentu saja dia kecewa. Alih-alih sudah ngiler saking membayangkan mau makan enak makanan klangenan kampung halaman, eehhh.. kecewa.

Cerita dia tentang kering tempe ini kok ya dadakan membuat saya jadi kangen ibu dan kering tempe buatannya yang super enak itu. Hhmm… Ngomong-ngomong, saya sih selalu kangen ibu. Tapi paduan antara ibu dan kering tempe bikinannya bikin saya jadi tambah kangen. Kangen dia. Dan kangen makan kering tempe.

Jadilah sabtu kemarin saya pergi ke toko oriental diantar oleh Ron. Tapi baru keesokan harinya, minggu, saya potong kecil-kecil dan goreng kering. Dan seperti ibu, saya juga selalu membuat kering tempe yang ditambahkan dengan kentang. Kentangnya dikupas, cuci bersih, lalu dipotong jadi 4 memanjang, kalau ukurannya besar, dan jadi 2 memanjang kalau kentangnya lumayan langsing. Setelah itu masing-masing bagian diiris tipis-tipis. Kemudian kentang yang sudah selesai diiris tipis dimasukkan ke dalam wadah berisi air dingin. Ini agar kentang tidak berubah warna jadi coklat.

Pendek kata, saya selesai menggoreng kentang dan tempe. Tapi saya malas melanjutkan. Jadi untuk sementara stop sampai di situ. Tempe dan kentang gorengnya saya simpan di dalam wadah bertutup yang kedap udara agar tidak jadi lunak. Melempem kalau kata orang Jawa. Rencananya senin sore baru saya bikin jadi kering tempe-kentang.

Senin menjelang siang, saya pergi ke rumah teman Indonesia di kota tetangga. Sudah lama, memang, saya tidak main ke rumahnya. Kebetulan seorang teman Belanda kami juga akan datang. Jadi kami bisa ngobrol ngalor-ngidul bertiga. Gezellig!

Waktu saya sampai, teman Indonesia saya itu sedang sibuk masak di dapur. Biasalah. Ini tradisi kami kalau sedang ngumpul bertiga. Kami akan makan siang bersama. Laaahh… kok masakan yang dia bikin salah satunya… kering tempe!

Kenapa tiba-tiba kering tempe menjadi begitu populer dan dikangeni banyak orang?

Kutukan kering tempe! Hahaha….rrrrrrrrrrrrrrrr…..

Tidak lama setelah saya sampai lagi di rumah, mulailah saya sibuk di dapur. Melanjutkan membuat kering tempe-kentang yang terjeda satu malam itu. Sekarang kering tempe-kentangnya sudah jadi.

Dan kering tempe-kentang ala ibu saya ini tidak basah. Benar-benar kering. Bahkan daun salam dan daun jeruk purutnya juga kemriuk kalau dikunyah. Percaya atau tidak, saking kemriuknya si dedaunan itu, saya juga memakannya. Enak! Dan yang jelas, sehat, karena selain berguna sebagai bumbu dapur, daun salam dan daun jeruk purut memiliki fungsi pengobatan.

Bagi mereka yang vegetarian, kering tempe ini bisa menjadi satu alternatif.

==========================

Bahan untuk membuat kering tempe:
1 lembar tempe, diiris sedikit lebih besar daripada korek api, goreng kering
2 buah kentang ukuran sedang (optional), kupas, cuci bersih, belah 2 atau 4, masing-masing diiris tipis
6-8 siung bawang putih
3-5 cabe merah (atau sesuai selera)
2 iris laos, geprek
2 lembar daun salam
4-5 lembar daun jeruk purut. Kalau rajin, buang tulangnya dan dirajang. Kalau malas, diremas saja
1 sdm gula jawa
3-4 sdm gula pasir (atau sesuai selera)
1 sdm air asam atau 1 sdt air jeruk nipis
garam sejumput kecil (optional)

Cara mengolah bumbunya:
bawang putih dan cabe merah diulek/diblender halus. Lalu ditumis dengan sedikit minyak bersama dengan laos, daun salam dan daun jeruk purut hingga harum. Gunakan api sedang. Masukkan gula jawa dan/atau gula pasir. Beri garam tapi sedikit saja. Kering tempe ini lauk yang manis, bukan gurih. Aduk hingga rata dan gula meleleh. Kecilkan api hingga benar-benar kecil. Teruskan memasak bumbu hingga menjadi berkaramel dan berserabut.
Tuangkan tempe yang telah digoreng kering. Aduk-aduk hingga rata. Teruskan memasak dengan api sangat kecil sampai kering tempe matang tanak, kira-kira 10-15 menit. Sekali-kali diaduk agar tidak gosong. Matikan api. Angkat.
Kering tempe yang diolah dengan cara seperti petunjuk di atas ini bisa awet 1 minggu bila disimpan di dalam wadah bertutup yang kedap udara dalam suhu ruang.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: