Baklava: si legit dari Turki

Beberapa negara mengklaim penganan legit ini sebagai penganan asli negara mereka. Negara-negara ini adalah kelompok negara yang terletak di kawasan Asia Tengah dan Asia Baratdaya. Tapi besar dugaan baklava aslinya berasal dari Turki. Saya sendiri pertama kali mengetahui tentang baklava dari acara turisme kuliner yang ditayangkan di salah satu saluran teve di Belanda sini. Sudah lupa apa nama acaranya dan apa nama saluran tevenya.

Satu hal yang selalu terngiang-ngiang di ingatan saya sejak itu adalah, betapa penuh seni dan dedikasi para pekerja di dapur di toko kue  yang menjual berbagai penganan ringan manis di salah satu pojok di kota Istanbul, Turki, itu. Dan saya terkagum-kagum ketika menyaksikan bagaimana adonan filo dibuat dengan cara yang tradisional. Betapa tipis namun elastisnya adonan filo itu. Wow!

Sejak saat itu kata “baklava” melekat di benak saya.

Lalu tiba-tiba saya menemukan baklava dijual di kios Turki di pasar di Arnhem. Kios itu tidak secara spesifik menjual baklava dan beberapa penganan ringan legit lainnya yang khas Turki. Kios itu sebenarnya menjual berbagai macam sayuran, dan bumbu-bumbu. Selain itu juga menjual berbagai macam jenis kacang-kacangan, couscous, roti pide, roti lavash.

Namun saya toh ragu untuk membeli. Dalam bayangan saya, baklava itu pasti manisnya nggak ampun-ampun. Membayangkannya saja saya sudah merasa nyut-nyut. Sakit kepala. Saya memang bukan penggemar makanan manis. Jadi setelah beberapa kali hari jumat berkunjung ke pasar di Arnhem itu barulah akhirnya saya memutuskan untuk membeli 100 gram baklava. Iya, harga baklava di kios itu ditetapkan berdasarkan berat. 100 gram hanya dapat tiga. Hhmm.. Saya bawa pulang supaya Ron juga bisa ikut melihat dan menikmatinya. Saya makan satu. Dan karenanya Ron kebagian dua. Seperti dugaan saya, legit banget. Saya jadi teringat penganan manis ala India dalam berbagai nama dan bentuk, tapi semuanya masuk dalam satu kategori yang sama: sweets.

Tidak lama setelah kami mencicipi baklava pertama kami itu, muncul satu kios Turki di dekat rumah. Satu gedung dengan supermarket langganan kami. Dan si kios Turki baru itu menjual baklava juga. Jadilah kami beberapa kali membeli baklava di kios itu. Setiap kali membeli pasti 100-150 gram.

Sampai suatu hari saya menyadari bahwa kios Turki di dekat rumah itu juga menjual adonan filo siap pakai. Wah.. Kebetulan sekali. Saya memang penasaran sekali. Berarti saya bisa mencoba membuat baklava sendiri dong!

Jadi suatu hari saya membeli adonan filo siap pakai itu. Bahan-bahan lain untuk membuat baklava sudah saya beli juga. Kacang pistachio dan kacang mede. Gula pasir, madu, mentega dan kayumanis bubuk selalu tersedia di lemari dapur. Air tinggal buka keran. Apa lagi?

Saya ingat saya mencoba membuat baklava itu mengambil waktu di akhir pekan. Itu waktu yang senggang. Jadi santai. Ron juga di rumah. Satu hal lain yang juga saya ingat adalah takaran gulanya saya kurangi lumayan banyak tapi tetap tidak membuat rasa manisnya hanya terasa samar-samar.

Kesimpulan saya: 1) saya bisa membuat baklava; 2) menurut saya, sebenarnya membuat baklava itu sangat mudah; 3) yang sedikit membuat repot hanyalah membuat lapisan-lapisan adonan filonya. Sebab harus diolesi dengan mentega leleh. Sehingga kalau dipanggang lapisan demi lapisannya bisa terlihat dengan jelas dan kemriuk kalau digigit. Satu keuntungan yang saya dapatkan dengan membuat homemade baklava adalah, saya bisa menetapkan sendiri kadar kemanisannya. Dalam hal ini saya kurangi hingga mencapai kadar kemanisan yang bisa saya toleransi. :)

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: