kai ho bai toei

Hari ini, tadi, seorang teman baik datang dari kota pelabuhan terpenting, main ke rumah saya. Perjalanannya jauh. Totalnya sekitar 2 jam. Itupun satu kali jalan loh. Tapi kami janjian sudah lama. Dan kami memang sangat ingin saling ketemu. Rasanya waktu yang ada nggak pernah cukup untuk saling bertukar cerita. Sayangnya kami tinggal berjauhan.

Saya salut sama dia. Hari ini cuaca lumayan buruk. Mendung, angin, bahkan hujan. Beuhh!! Meminjam istilah dia, we both are not waterproof creatures… unfortunately! Haha.. Untungnya kami memang memutuskan untuk ngobrol di rumah saya saja. Jadi cuaca yang kurang bersahabat tidak mengubah acara kami. So, we love our comfort!

Saya jemput dia di stasiun kereta yang terletak di dekat rumah. Tapi akhirnya kami bertemu di pusat perbelanjaan mungil yang terletak di seberang stasiun. Sebelum pulang ke rumah saya, kami mampir dulu ke Lidl dan ke AH untuk berbelanja sedikit. Dia beli-beli sedikit. Saya apalagi! Habis itu kami berjalan kaki pulang ke rumah saya. 20 menit, sebab jalan santai.

Sesampainya di rumah tentu yang kami kerjakan adalah melanjutkan ngobrol. Hal-hal lain hanya sambilan saja. Kecuali makan siang. Yang satu itu wajib! Saya bikin salad bihun ala Thailand. Beberapa waktu yang lalu saya membuat posting tentang salad bihun ini. Bikinnya gampang bener. Tapi karena sambil membuat sambil ngobrol. Kok jadinya saya merasa agak lama juga. Ini pasti ngobrolnya yang bikin lama. O ya.. Waktu di pusat perbelanjaan tadi kami juga beli 1/2 kg paha ayam yang sudah digoreng dengan bumbu berwarna oranye kemerahan. Entah apa nama bumbunya. Khas Belanda. Mungkin hasil akulturasi dengan Suriname. Tapi aroma dan rasanya hhhmm… enak tenan!

Akhirnya salad bihunnya jadi juga. Ayam yang tadi kami beli juga sudah selesai dipanaskan di oven. Malah sudah mulai dingin lagi karena terlalu lama menunggu si salad bihun selesai dibuat.. :)

Teman saya bilang salad bihunnya enak. Horeee.. :)) Ayam berbumbu oranye kemerahannya juga enak banget. Kami makan masing-masing dua potong. Nyaamm! Yang paling bikin senang adalah: ternyata teman saya itu juga hobi ngrakotin tulang ayam. Asiikk.. ada teman!! Suatu hari nanti mesti diajak makan hidangan ikan utuh di Salathai. Pasti seru ngrikitin kepala ikan bareng.

Cerita soal makanan khas Thailand saya jadi teringat waktu diajak jalan-jalan orangtua saya ke Thailand di tahun 2009. Ada satu hidangan yang selalu ada dalam menu di tiap makan siang dan makan malam kami selama tur di sana adalah, apalagi kalau bukan, tom yam gung yang terkenal itu. Pokoknya tur 4 hari 3 malam di sana saya puas mencicipi sop udang khas Thailand yang terkenal itu di negara asalnya.

Namun, di salah satu kesempatan makan malam di sana, saya terpikat dengan satu hidangan. Hidangannya berupa potongan-potongan ayam yang dilumuri dengan bumbu entah apa. Kemudian masing-masing potongan ayam itu dililit dengan daun pandan lalu digoreng kering. Enak sekali. Sepertinya di Indonesia ada juga. Namanya “ayam lilit pandan”. Saya sih belum pernah bikin yang versi Indonesia.

Sepulangnya saya kembali ke Belanda, saya kok selalu terkenang-kenang dengan ayam goreng lilit pandan ala Thailand yang sungguh enak itu. Penasaran, saya lalu googling. Akhirnya ketemu juga. Nama lokalnya: kai ho bai toei. Setelah mencari dan akhirnya mendapat resep yang cukup bisa dipercaya (hahaha) saya mencoba membuatnya. Juga mencoba membuat tom yam gung. Resep ayam lilit pandannya saya dapat dari sini, dari blog a flavor of Thai. Sementara tom yam gungnya saya buat dengan menggunakan bumbu tom yam gung siap pakai yang kami beli dari Toko Oriental.

Wowww.. ternyata dua-duanya sukses dan enak tenan! Ron juga suka sekali.

Kembali ke cerita hari ini tadi. Setelah selesai makan siang dan membereskan perkakas dapur, kami ngobrol di sofa depan teve. Teman saya menunjukkan beberapa foto yang dia jepret ketika berkunjung ke Paris belum lama berselang. Foto-foto tentang kegiatan akbar membuat roti yang kebetulan hari itu digelar. Foto-fotonya bagus-bagus. Ayo dong bikin blog juga. Lalu foto-foto itu dimuat di blog. Pasti akan jadi lebih seru. Akan lebih banyak orang yang bisa melihat dan menikmati foto-foto bagus itu.. malah mungkin sambil ngeces segala. Karena sambil nonton foto-foto sambil membayangkan rasa roti-roti enak yang pasti nikmat itu.

Lalu teman saya itu juga bercerita tentang usaha dia untuk membuat kering tempe. Usaha yang lumayan gagal menurut dia. Not bad dari segi rasa. Tapi dari segi rupa sangat tidak seperti yang dia harapkan dan bayangkan. Tidak kering seperti judul makanannya. Malah basah. Saya bilang, pakai resep saya saja. Lalu saya meraih buku catatan resep saya. Membalik-balik halamannya satu per satu untuk mencari halaman yang memuat resep kering tempe itu. Tiba-tiba teman saya menangkap satu halaman yang berisi resep bolu kukus. Dia langsung menunjuk sambil berseru, “Waahh.. aku suka sekali bolu kukus!” Saya menyahut, “Masa?? Ayo kita bikin yuk!” Dia berseru, “Yuuukkk!” Lalu kami bangkit berdiri dan bergegas menuju dapur. Dan terlupakanlah pencarian resep kering tempe yang naas itu. Maaf ya tempe.

Saya memakai resep bolu kukus 200 dari blog NCC. Resep yang mudah. Semua bahannya sejumlah 200. Tepung terigu 200 gram. Gula pasir 200 gram. Air soda (sprite/7up/fanta) 200 ml. Telur ayamnya 2 butir dan pelembut kuenya (ovalet atau TBM) 1 sdt.

Tapi ternyata saya tidak punya pasta moka. Pasta coklat juga tidak punya. Cuma punya pasta pandan. Masa warna hijau? O ya. Saya punya pewarna makanan warna salem. Tapi setelah dicampur dengan 2 sendok makan adonan, kok ternyata jadinya oranye?! Ini sih kami merayakan UEFA European Football Championship 2012 kepagian. Nggak apalah.

Adonan sudah jadi. Air rebusan sudah mendidih. Teman saya giat menuangkan beberapa sendok makan adonan ke setiap cetakan bolu kukus yang sudah dilapisi cup paper yang sebenarnya kekecilan. Sekali mengukus bisa 6 cetak. Tapi hasilnya kurang oke. Mengkerut. Lain kali bikin cup kertas sendiri saja. Dari kertas roti yang dipotong bentuk bujur sangkar.

Ada kekecewaan lain. Beberapa kok kurang mengembang di tengah. Setelah teman saya pulang, saya mencoba mengingat-ingat dan mencari. Di mana letak erornya. Aahh… Sepertinya ini kesalahan saya. Saya ingat, api saya kecilkan sedikit ketika mengukus babak kedua. Ini gerakan yang otomatis. Saya memang agak tidak nyaman melihat api yang terlalu besar. Padahal kalau mengukus bolu kukus api yang digunakan memang harus besar supaya tekanan uap air di dalam dandang juga besar dan itu akan membuat adonan terpompa mekar dengan bagus dalam waktu singkat. Maafkan, teman. Ini memang contoh yang agak eror. Kalau besok-besok berniat mencoba bikin sendiri di rumah, api untuk mengukusnya yang besar ya. Dan jangan diutak-atik. Air rebusannya harus sekali-kali dicek. Kalau hampir habis, segera tambahkan dengan air mendidih. Sip?

Tak lama setelah kami selesai membuat bolu kukus EK 2012 Ron pulang dari kantor. Teman saya ngobrol sebentar sama Ron. Kali ini pakai bahasa Belanda! Waahh… sudah oke banget. Knap hoor! Lalu dia harus pulang. Kami mengantarnya kembali ke stasiun dekat rumah saya. Tak lama kereta KRL ala Belanda datang dan naiklah dia. Daaahh.. Hati-hati. Sampai ketemu lagi ya!!

Lalu saya dan Ron pergi ke cafetaria di pusat perbelanjaan mini seberang stasiun. Mana tahan kalau sudah sampai sana tidak beli patat?! Favorit saya: patat zonder. Terjemahannya lumayan aneh. Kentang goreng tanpa. Hahaha… Maksudnya tanpa saus apapun. Kami pesan untuk dibungkus/dibawa pulang. Sesampainya di rumah, saya makan pakai saus mayones dan saus tomat sambil nonton teve. Ron nggak usah dibagi.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: