roti tawar

Dulu… sekali saya pernah coba bikin roti tawar. Kira-kira 5 tahun yang lalu. Pinjam buku resep roti dari perpustakaan, lalu merasa pe-de. Tapi nggak segitu pe-de-nya sebab saya cuma berani bikin setengah resep. Tapi ini bukan soal berani atau takut. Saya cuma tidak ingin buang-buang bahan makanan kalau ternyata gagal.

Benar saja… Gagal! Total!

Rotinya tidak mengembang seperti yang saya harapkan. Selain itu… hhmmm.. bisa untuk nimpuk maling. Pasti lumayan klenger kalau kena.

Habis itu saya tidak berani lagi coba-coba bikin roti tawar. Tapi keinginan untuk mencoba bikin itu selalu ada. Hmmm.. Itu terjadi sebelum saya tahu dan mengerti cara bikin roti yang benar.

Sekarang saya bisa bikin roti. Sejak 3-4 tahun yang lalu. Bermula dari bikin pizza. Homemade pizza. Dan sekarang homemade pizza saya jadi favorit Ron, suami saya.

Saya juga rajin baca buku tentang teknik cara membuat roti. Rajin menonton klip video tentang bikin roti. Rajin baca resep-resep roti ini dan itu. Dan lumayan rajin praktek. Apalagi kalau bukan bikin pizza. Lalu fougasse. Focaccia.

Setelah menunggu 5 tahun, baru hari ini saya memberanikan diri bikin roti tawar lagi. Itupun setelah mencari, mengumpulkan, memperbandingkan dan membayang-bayangkan sekian banyak resep roti tawar. Kira-kira jadinya bagaimana ya?

Resep roti tawar yang saya pakai untuk praktek saya ambil dari blog uit de keuken van Levine. Resep aslinya memakai tepung terigu semua. Tapi saya masih punya sedikit (baca: sisa) tepung terigu yang tidak diproses lebih lanjut. Tidak ada istilahnya dalam Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Inggris kita sebut whole wheat flour. Saya timbang masih ada 88 gr. Saya pakai semua. Selebihnya saya pakai tepung terigu biasa. Bahan-bahan yang lain mengikuti resep.

Semua berjalan lancar. Adonan roti saya aduk dan uleni dengan menggunakan mesin roti. Dan kemudian dua kali mengembangkan adonan, sebelum dan sesudah dibentuk dan dimasukkan ke dalam loyang.

O ya. Sejak pertama kali menggunakan mesin roti ini hari minggu yang lalu, saya jadi ketagihan manja. Malas menguleni adonan dengan tangan. Tapi memang sungguh praktis menguleni adonan roti pakai mesin roti. Tidak hanya kita tidak capek, tapi kita juga bisa mengerjakan hal-hal lain selama mesin sibuk menguleni adonan. That’s what the technology is for. Ya nggak?

Lalu muncul satu masalah. Besar.

Ketika roti sedang dibiarkan mengembang untuk yang kedua kalinya, setelah dibentuk dan dimasukkan ke dalam loyang, Ron dan saya pergi berbelanja akhir pekan. Itu terjadi ketika adonan di dalam loyang baru mengembang separo tinggi loyang. Dan loyang saya masukkan ke dalam oven roaster saya yang cimot itu. Belum lagi, loyang saya tutup pula dengan serbet bersih. Oven super imut itu jadi tambah sesak.

Ternyata kami pergi lebih lama dari yang saya perkirakan. Sesampainya di rumah, yang saya tengok lebih dulu adalah si loyang berisi adonan roti tawar di dalam oven roaster imut.

Cilaka! Loyang berisi adonan roti yang sudah mengembang penuh itu nyaris tidak bisa saya keluarkan lagi dari dalam oven. Akhirnya bisa. Pun dengan mencelakai permukaan adonan roti. Permukaan adonan roti jadi berkerut-kerut. Kok saya tiba-tiba jadi teringat lengan tangan mbah buyut saya ya.

Belum dipanggang saja sudah sulit dimasukkan/dikeluarkan dari oven. Bagaimana kalau sedang dipanggang ya? Kan kalau dipanggang adonan akan mengembang sedikit lagi akibat panas oven. Waaahh.. Mestinya tadi bikinnya separo resep saja! Apa boleh buat. Sudah telanjur. Mana permukaan adonan sudah saya olesi dengan campuran telur kocok dan susu putih cair pula.

Dengan cara yang maksa, rak tatakan loyang saya turunkan lagi. Padahal itu juga sudah yang paling bawah. Bingung kan? Lalu, akhirnya loyang berisi adonan yang sudah mengembang penuh itu berhasil saya masukkan ke dalam oven. 220 derajat Celcius.

Baru 10 menit di dalam oven, bau si roti sudah menjalar sampai ke ruang teve. Hhmm.. nggak bener ini! Saya tengok. Benar saja. Satu titik di permukaan roti tampak sudah mulai coklat kegosongan. Itu karena titik yang itu mengembang lebih lanjut sampai mencapai langit-langit oven. Jadi ya terpapar langsung dengan sumber panas. Gosonglah! Sementara bagian yang lain masih putih. Wong baru 10 menit.

Loyang berisi roti belum lagi separo matang itu saya keluarkan dari dalam oven. Saya putar otak. Mesti bagaimana. Apapun yang terjadi, si roti nggak boleh jadi mubasir. Mesti matang. Mesti bisa dimakan. Kayaknya juga bakal enak.

Akhirnya saya ambil loyang lain. Loyang berisi adonan roti itu saya letakkan merebah di loyang yang satunya. Sip!

Saya masukkan lagi ke dalam oven dan lanjutkan memanggang. Setiap 20 menit saya putar supaya matangnya dan warna kuning kecoklatannya rata.

Satu hal. Bentuk roti tawar saya jadi agak nggak karuan. Cuek!

Akhirnya matang juga. Wohhoooo!!

Sama sekali nggak buruk hasilnya. Bagian luarnya kering kriuk. Bagian dalamnya super empuk. Enaaakk banget! Pokoknya sukses berat.

O ya. Sambil bikin roti tawar, saya juga bikin witte puntjes lagi. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk Ron. Lagi-lagi untuk dibikin broodje haring, makan malam dia malam ini.

Roti tawar dan witte puntjes hari ini sukses berat. Saya puas. Senang. Sekarang saya mau tidur dulu. Daaahh..

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: