witte puntjes

Seharian nyaris tidak melakukan kegiatan apapun. Seluruh sudut tubuh pegal linu nggak karuan. Ini memang takdir bulanan khas perempuan. Apa boleh buat. Jadi saya cuma duduk leyeh-leyeh di depan teve, nonton sampai bego. Kalau bosan nonton ya meraih buku resep yang saya pinjam dari perpustakaan, membalik-balik halaman demi halaman sampai mata perih dan leher kaku karena menunduk terlalu lama.

Waktu Ron pulang dari kantor saya masih juga duduk di depan teve. Duuhh.. Padahal kami mesti pergi ke supermarket langganan untuk belanja mingguan. Bir habis. Susu coklat juga habis. Apa lagi yang habis?

Cepat-cepat saya menyiapkan daftar belanja. Sudah saya buat sejak kemarin. Tapi ternyata masih ada yang perlu ditambahkan. Lalu bersiap-siap untuk pergi. Selagi saya mandi dan bersalin, Ron menambahkan dua hal ke dalam daftar belanja kami. Mayonaise dan susu coklat. Dan seperti biasa, daftar belanja kami tulis dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris dan Belanda.

Waktu sedang di supermarket, Ron juga memasukkan sekotak goulash kroket (isi 4) ke dalam kereta belanja kami. Dia bilang dia ingin makan goulash kroket pakai witte puntjes.

Loh.. tapi kita nggak punya witte puntjes di rumah. Begitu saya bilang ke dia. Dia bilang dia tahu. Lalu saya lihat di pojok roti di supermarket, witte putjes juga sudah tidak ada alias habis.

Lalu?

Dia bilang saya yang akan membuatkannya untuk dia.

Hadooohhh!!

Untung ada dewa penyelamat dalam rupa mesin roti yang mulai saya operasikan kemarin malam. Badan lagi pegel semua begini kalau mesti nguleni adonan roti mah males lah.

Sesampainya di rumah, saya langsung googling mencari resep witte puntjes di internet. Akhirnya dapat satu yang menurut saya oke. Saya dapatkan dari sini.

Saya buat separo resep karena Ron cuma butuh empat. Separo resep bisa jadi 6-7 buah witte puntjes dengan berat adonan mentah 65 gram.

Hasilnya lumayan banget. Kata Ron masih agak lebih padat kalau dibandingkan dengan witte puntjes yang dijual di supermarket. Tapi ini mungkin karena saya tidak memberi waktu yang cukup ketika mengembangkan tahap pertama. Yang seharusnya 1-1,5 jam dan saya cuma 1 jam. Juga ketika mengembangkan tahap kedua. Sesudah dibentuk menjadi puntjes, adonan dikembangkan lagi selama 1 jam. Saya cuma melakukannya sekitar 20 menit. Semua ini sebab hari sudah makin larut dan cacing-cacing di perut Ron mulai protes. Tapi dengan segala ketidaktertiban dalam melakukan instruksi cara membuat, hasil akhir resep ini toh sangat tidak mengecewakan.

Lain kali kalau bikin lagi saya mau menepati instruksi resepnya. Menyisihkan adonan roti selama 1 jam — dan bukannya cuma 20 menit — untuk dikembangkan 2x sebelum akhirnya masuk ke oven.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: