roti goreng isi ikan

Saya rasa namanya bisa apa saja. Tergantung bumbu yang digunakan. Tapi yang saya bikin ini namanya panada. Jajanan khas Manado, Sulawesi Utara, Indonesia. Isinya ikan tongkol yang disuwir-suwir dan ditumis dengan beberapa macam bumbu. Ron suka sekali. Bahkan menjadi satu dari sekian cemilan favorit dia.

Dua minggu yang lalu Ron minta saya membuatkan panada untuk bekal makan siangnya di kantor. Saya senang sekali kalau dia ada special request seperti kali ini. Dengan penuh semangat pasti saya bikinkan. Tapi yang kali ini baru bisa terlaksana setelah dua minggu. Sebab ketika dia minta dibikinkan kami masih punya simpanan pâté dan salami di lemari pendingin. Pâté dan salami itu kami beli untuk dijadikan bekal makan siang Ron di kantor. Keduanya bukan jenis makanan olahan yang tahan lama. Jadi harus dihabiskan terlebih dulu sebelum akhirnya bisa bikin panada.

Rencananya saya akan membuat panada ini kemarin (minggu) siang. Tapi kok malas. Lebih enak menikmati hari minggu bersama Ron sambil mengurusi tanaman. Juga asyik memberi makan tamu baru, si bebek putih.

Minggu malam juga tidak bisa. Sebab kami pergi menengok ibu Ron, sekalian merayakan hari ibu internasional.

Jadilah saya membuat panada hari ini.

Biasanya, kalau ingin membuat panada, saya akan membuat adonan isinya sehari sebelumnya. Lalu disimpan di lemari pendingin. Keesokan harinya tinggal membuat adonan roti, mengisi dan mengoreng.

Kalau saya membuat semuanya, adonan isi dan adonan roti, dalam satu hari yang sama, saya akan membuat adonan rotinya lebih dulu. Ketika adonan roti sedang disisihkan supaya mengembang 2x semula selama 1 jam saya memanfaatkan waktu untuk membuat adonan isinya.

Hari ini saya melakukannya sedikit lain. Memakan waktu lebih lama. Saya membuat adonan isinya lebih dulu. Bumbunya bawang bombay (pengganti bawang merah Indonesia), bawang putih, jahe, ketumbar bubuk, cabe bubuk, kunyit bubuk, lada putih, garam, sereh, daun jeruk purut dan daun basil.

Semua bumbu diblender halus kecuali sereh, daun jeruk purut dan daun basil. Saya menggunakan daun basil sebagai pengganti daun kemangi yang tidak tersedia di dapur saya. Serehnya dipotong 5 cm dan daun basilnya dirajang halus. Daun jeruk purutnya dibiarkan utuh tapi diremas agar aroma yang keluar lebih kuat.

Baru kemudian membuat adonan rotinya. Tapi hari ini saya merasa agak lelah. Sepagian tadi saya membereskan kebun belakang. Jadi saya malas menguleni adonan roti dengan tangan. Saya pakai mesin roti. Ini untuk yang pertama kalinya. Kami punya mesin roti sudah lama. Mungkin sekitar 5 tahun. Dulu Ron yang pakai. Tapi kemudian berhenti mencoba, sebab menurut dia hasil akhirnya kurang oke. Akhirnya mesin roti itu kami simpan di loteng.

Ternyata asyik juga. Saya tinggal menimbang dan menakar bahan-bahannya. Lalu menuangkannya ke dalam mesin roti, memilih program, menekan tombol start dan… voila! Mesinnya mulai mengaduk dan menguleni. Tangan tetap bersih dan yang jelas saya tidak jadi tambah capek. O ya. Saya memakai mesin roti ini cuma untuk mengaduk dan menguleni, walaupun mesinnya bisa juga dipakai untuk memanggang.

Setelah mesin selesai bekerja, saya keluarkan adonan dan menaruhnya ke dalam wadah kecil. Lalu menutupnya dengan aluminium foil untuk disisihkan dan dibiarkan mengembang 2x selama 1 jam.

Lalu saya menggunakan waktu untuk ngobrol sama Ron sambil mengupas kentang untuk makan malam nanti. Kami akan makan puree kentang-brokoli dan verseworst. Nyaamm.. Saya juga menyempatkan diri untuk memindahkan satu bayi zucchini dari pot ke lahan di kebun belakang. Dan waktu yang satu jam itupun tak terasa berlalu sudah.

Adonan roti saya kempiskan dan uleni ringan 1 menit. Lalu saya timbang per 40 gram, bulatkan dan sisihkan di atas nampan yang sudah saya olesi dengan sedikit minyak. Adonan roti dari 250 gram tepung terigu bisa menjadi 10 bulatan.

Lalu satu per satu bulatan tersebut saya pipihkan, saya beri isi 1,5 sendok teh isi di tengahnya, lalu adonan saya rekatkan dan pilin dengan sedikit ditekan agar tidak membuka ketika sedang digoreng. Sambil mengerjakan ini saya memanaskan minyak yang cukup banyaknya dengan api sedang untuk menggoreng (deep-fry) panada. Karena cuma jadi 10 buah, maka menggorengnya juga cepat.

Ron mana tahan nggak nyicipin. Dia comot satu dan makan dengan lahap… Habis itu protes, “Kenapa bikinnya cuma 10 buah sih???”

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: