Ron ingin makan hamburger

Jumat yang lalu, sore-sore sepulangnya dari kantor, Ron bilang dia ingin hamburger untuk makan malam.

OK!

Tapi di rumah tidak ada persediaan daging cincang. Juga tidak ada lagi roti bulat putih sebagai roti hamburgernya. Saya segera menambahkan kedua hal tersebut ke dalam daftar belanja akhir pekan kami. Yang lainnya sudah saya catat pagi-pagi. Lalu kami pergi ke supermarket langganan kami. Letaknya dekat rumah. Tapi kami pergi naik mobil.

Semua barang yang mesti dan ingin kami beli ada semua kecuali roti bulat putih. Habis. Sebab waktu kami pergi belanja hari sudah sore sekali. Orang Belanda kan monster roti…layaknya orang barat pada umumnya. Jadi kalau mau beli roti mesti sebelum sore.

Ron menghampiri saya yang sedang sibuk memilih-milih sayuran. Dengan wajah kecewa dia bilang, “Rotinya habis.” Saya menengok ke dalam kereta belanja, dia tidak mengambil daging cincang. Mungkin dia pikir percuma saja, sebab roti bulatnya sudah tidak habis. Jadi toh tidak bisa bikin hamburger.

Saya tersenyum, kasihan melihat dia kecewa. Saya bilang, “Sana ambil daging cincangnya. Nanti saya bikinkan roti hamburger di rumah.” Dia bertanya, “Kamu bisa?” sambil nyengir penuh harap. Saya jawab, “Tentu saja!” Senyumnya melebar dan bergegas pergi ke pojok tempat gerai daging dan mengambil 2 wadah daging sapi cincang.

Sampai di rumah, saya tidak langsung mulai membuat roti hamburger. Saya cari-cari dulu resep untuk bikin roti hamburger. Di tiga buku resep roti yang saya pinjam dari perpustakaan pusat di Arnhem ternyata tidak ada resep roti hamburger. Semua resep yang ada di ketiga buku itu cuma resep-resep roti khas Eropa. Ya sudah. Berarti saya harus browsing di internet. Akhirnya dapat satu yang tampaknya oke. Dari situs allrecipes.

Lalu saya ke dapur untuk mengambil dan menyiapkan semua bahan yang diperlukan. Lalu mulai menakar dan menimbang. Mengaduk. Menguleni. Jadilah adonan roti hamburger. Karena satu resep roti hamburger bisa jadi 12 buah roti, maka saya cuma buat setengah resep. Jadi 6 buah. Kapan-kapan kalau ingin makan hamburger lagi ya rotinya bikin lagi. Biar selalu fresh from the oven. Toh bikinnya juga tidak sulit.

Roti hamburger untuk Ron ini saya buat tanpa taburan wijen di atasnya. Dia tidak suka, sebab nyelip-nyelip di sela-sela giginya. Malah bikin repot.

Memanggang roti hamburger ini memakan waktu lebih lama dari waktu yang tertera di resep aslinya. Bukan 10-12 menit, tapi 20 menit. Sebab oven kami oven tua dan kecil. Oven roaster sebenarnya. Tidak benar-benar layak untuk memanggang roti dan kue. Jadi biasanya memakan waktu lebih lama. Tapi tak apa.

Hasilnya lumayan. Tapi lain kali kalau bikin lagi, mungkin saya akan sedikit mengutak-atik resep aslinya. Agar hasilnya jadi lebih oke.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: