wedang ronde buatan rumah

Sejak entah kapan, di tahun 2010 yang lalu, saya dan Ron memutuskan untuk pulang ke Indonesia menengok keluarga saya. Dan bagi Ron, tentu saja juga berlibur. Semakin dekat waktu pulang, semakin kental dan pekat rasa rindu saya akan keluarga dan handai taulan. Juga semakin kangen akan makanan khas Indonesia… apapun itu. Hal itu membuat saya semakin hari semakin malas memasak makanan Indonesia, sebab semakin terngiang-ngiang di benak saya semua makanan itu bisa didapat dengan mudah di tanah air. Tidak perlu susah payah memasak. Cukup beli. Rasanya juga cukup paten. setidaknya banyak tempat yang bisa dipilih sesuai rasa dan harga.

Sampailah hari keberangkatan kami ke Jakarta. Kali ini kami naik Garuda Indonesia. Wah, ternyata Ron cocok dengan maskapai nasional Indonesia ini. dengan ruang di dalam pesawat yang menurutnya lebih luas (sedikit) ketimbang maskapai-maskapai lain. Juga terlebih dengan keramahan para pramugari dan pramugaranya dan kelezatan makanan yang dihidangkan di atas pesawat. Ternyata cocok susunya!

Sesampainya di Jakarta, kami disambut oleh hawa panas khas Indonesia yang membuat Ron meleleh selalu. Tapi entah mengapa, pada kepulangan kami kali ini, Ron begitu sehat. Tidak jatuh sakit, tidak mengalami diare. Selalu enak makan. Dan yang jelas dia memang selalu berusaha banyak minum, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat terus menerus berkeringat.

Setiba kami di rumah Pondasi, tentu saja saya sudah disambut dengan sebungkus nasi kapau yang sudah lama saya impi-impikan. Nikmat tiada tara!! Ron makan apa? Ron makan makanan masakan rumah. Sebab itu hari pertama kami ada di Jakarta. Jadi sungguh suatu keputusan yang bijaksana bahwa dia menahan diri untuk tidak langsung jajan, agar perutnya menyesuaikan diri dulu dengan suhu udara di Jakarta dan dengan jenis makanan yang berbeda dari yang biasanya dia konsumsi di Belanda.

Dengan berlalunya hari demi hari, saya makin menyadari bahwa yang paling saya kangeni tentang makanan khas Indonesia itu ternyata bukanlah makanan-makanan itu sendiri. Bukan pula cita rasanya. Hal yang paling saya kangeni dari makanan Indonesia adalah menyantapnya bersama keluarga di meja makan di rumah (!!) sambil bertukar cerita ini-itu. Ramai. Kadang riuh rendah. Tapi sungguh hangat dan nyaman di hati… :’)

Hari ini ibu saya membuat wedang ronde. Bahan-bahannya sudah kami beli sehari sebelumnya. Kebetulan kemarin siang kami pergi berjalan-jalan di Mal Kelapa Gading. Lalu kami mampir di supermarket Farmer Market. Tadi siang Ibu membuat ronde untuk isi wedang ronde, dibantu oleh Mbak Sri. Malam ini kami menikmati semangkuk wedang ronde sambil menonton film Eat, Pray, Love yang ditayangkan di HBO. Kurang manis. Dan rasa jahenya kurang mantap. Tapi bagaimanapun tidak ada yang mengalahkan rasa nikmat wedang ronde buatan rumah. Buatan Ibu. Wedang ronde yang dibuat dengan bumbu tambahan yang justru bumbu terpenting. Cinta!

* * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: