mango cheesecake

Tiap kali berkesempatan pulang ke tanah air, saya pasti menyempatkan diri membeli beberapa buku resep masakan. Juga majalah kuliner. Salah satunya majalah Santap. Di salah satu majalah Santap yang saya beli tempo hari (edisi 15 Agustus – 14 September 2006) ada resep mango cheesecake. Cantik. Dan kelihatan enak. Apalagi diberi topping irisan mangga tipis-tipis. Nyaamm!

Sudah lama saya ingin bikin juga. Tapi kata “cheesecake” terdengar seperti momok. Apalagi ketika pertama kali kepikiran untuk bikin mango cheesecake ini saya sama sekali belum pernah bikin cheesecake. Apapun itu. Tapi setelah beberapa kali membuat, dan ternyata tidak sulit-sulit amat, keinginan saya untuk mencoba membuat mango cheesecake ini jadi semakin mantap.

Jadilah kemarin saya membuatnya. Cuma 3/5 resep.

Ini kebiasaan saya kalau mencoba resep baru. Tidak membuat satu resep utuh. Tapi sebagiannya saja. Jadi kalau kurang sukses atau bahkan gagal sama sekali, tidak terlalu banyak bahan yang terbuang. Kan sayang.

Buah mangganya saya sudah punya. Tapi cream cheese dan biskuit untuk crust base-nya saya tidak punya. Terpaksa ke supermarket dulu. Untung tidak jauh. Jalan kaki santai cuma 10-15 menit.

Pulang dari supermarket saya langsung sibuk berkutat di dapur mungil saya. Semua berjalan lancar. Kerja saya kali ini juga cukup sistematis. Tidak terlalu berantakan. Dan setelah loyang berisi adonan mango cheesecake itu saya masukkan ke dalam oven, saya mulai membereskan dapur. Mencuci semua perkakas yang saya gunakan. Voila! Dalam 15 menit dapur saya sudah rapi kembali. Senang!

Waktu yang dibutuhkan untuk memanggang mango cheesecake termasuk lama. 1 jam 45 menit. Dipanggang dengan cara ditim atau au bain marie, nama kerennya. Loyang berisi adonan cheesecake ditaruh dalam loyang yang lebih besar yang berisi air mendidih. Loyang yang saya pakai adalah loyang bongkar pasang. Spring form. Ukuran 18 cm. Tapi karena loyang ini loyang bongkar pasang, maka dasar bagian luar loyang harus saya bungkus dengan aluminium foil 4 lapis. Tujuannya agar air rebusan tidak merembes masuk ke dalam loyang berisi adonan cheesecake. Bisa berabe.

Jadi, tahap memanggang cheesecake ini selalu menjadi tahap yang paling riskan.

Ketika waktu memanggang cheesecake sudah separuh berlalu, Ron, suami saya, pulang dari kantor. Dia senang saya bikin cake. Itu berarti dia akan bisa menikmati dessert sesudah makan malam. Tidak lama sesampainya di rumah, Ron rebahan di sofa depan tivi, mau tidur sejenak. Ini kebiasaan dia kalau pulang dari kerja.

Waktu dia bangun 45 menit kemudian, cheesecake sudah selesai dipanggang. Tapi loyang berisi cheesecake itu masih saya taruh di dalam oven dalam keadaan oven sudah mati. Loyang berisi air rebusan dan aluminium foil sudah saya sisihkan. Tujuannya agar cheesecake matang lebih lanjut dengan panas yang tersisa di dalam oven. Menurut resep, saya harus melakukan ini 1 jam lamanya.

Bangun-bangun, Ron bilang, dia ingin mencicipi cheesecake. Saya bilang, “Masih agak panas.” Dia bilang, “Nggak apa-apa.” Hahaha.. ini berarti dia sedang in the mood ngemil. Jarang-jarang tuh.

Ya sudah. Saya suruh dia mengeluarkan cheesecake itu dari dalam oven. Lalu saya bantu dia menaruhnya di atas piring datar. Saya sediakan piring kecil, garpu dessert dan pisau untuk memotong si cheesecake.

Ketika sedang memotong cheesecake dan kemudian menaruhkannya di atas piring kecil, dia bilang, “Cheesecakenya masih basah. Susah diangkat. Jadi agak hancur.” Saya bilang, “Ya, karena masih panas. Harusnya kan didinginkan dulu supaya dia mengeras dan jadi lebih mudah dipotong.” Ron lagi, “Tapi ini kayaknya basah sekali.” Saya menghampirinya untuk melihat si cheesecake.

Benar. Saya sentuh permukaan yang habis diiris itu. Basah! Saya lihat tekstur cake-nya juga tidak halus. Agak mringkil-mringkil. Lalu sesudah mulai makan, Ron bilang, “Crust base-nya juga basah.” Saya mencicipi potongan cheesecake dari piring dia 1 emplok kecil. Iya, basah. Hhmmm..

Lalu saya bilang ke Ron, “Saya curiga air rebusannya merembes masuk. Kalau benar, itu bikin adonan cheesecake, terutama yang bagian bawah, jadi basah. Makanya cheesecake-nya jadi basah begini. Harusnya sih nggak.” Ron manggut-manggut sambil meneruskan menyantap potongan cheesecake di piring kecilnya. “Tapi rasanya sih enak sekali,” dia bilang.

Syukurlah!

“Lalu saya mesti gimana ya?” Ron bilang, “Panggang lagi aja sebentar supaya air resapannya jadi menguap.” Benar juga. Jadilah oven saya nyalakan lagi. 175 derajat Celcius. Setelah 15 menit, loyang berisi cheesecake yang sudah hilang 1 bagian itu saya masukkan lagi ke dalam oven. Timer saya pasang 20 menit.

Setelah 20 menit berlalu, timer berbunyi. Saya matikan oven. Tapi loyang berisi cheesecake itu saya biarkan tetap berada di dalam oven. Timer saya pasang lagi. Kali ini 1 jam. Sesuai instruksi dalam resep di majalah Sedap itu.

Satu jam berlalu. Timer berbunyi dan saya matikan. Cheesecake saya keluarkan dari dalam oven yang tidak menyala itu. Setelah saya diamkan 5 menit, saya cek. Crust base-nya mengeras. Bagian cake-nya juga lebih kaku, tapi tetap mumbul-mumbul. Saya taruh di atas meja dan biarkan agar dingin. Kira-kira 1 jam lamanya. Lalu saya iris 1 potong dan cicipi. Lebih oke ketimbang sebelum dipanggang ulang.

Kesimpulan akhir saya sih tetap sama. Air rebusan yang dipakai untuk mengetim cheesecake merembes masuk lewat aluminium foil dan membasahi adonan cheesecake. Apa boleh buat. Ini risikonya kalau pakai loyang bongkar pasang.

Lain kali mesti lebih panjang akal. Supaya hasilnya benar-benar oke. Bagaimanapun, rasa mango cheesecake percobaan ini enak kok. Lain kali saya mau bikin lagi. Pakai mangga harum manis. Di Jakarta!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: