muffin gurih

 

Beberapa hari yang lalu saya menelpon keluarga di Jakarta. Yang mengangkat telpon kakak saya. Kami ngobrol. Cuma sebentar, karena dia sedang makan malam. Lalu saya beralih ngobrol dengan Bram, keponakan saya. Seperti biasa, dia akan mengawali obrolan dengan seruan, “kangeeeeeeeeeeeeeeeeen!!” Setelah ngobrol sama Bram beberapa jenak, saya beralih ngobrol sama Widya, adik Bram. Kami ngobrol tentang sepatu kets titipannya. Aahh.. anak-anakku ini anak-anak yang selalu manja dan kangen sama Mama No. So sweet!

Setelah selesai sesi ngobrol dengan anak-anak, akhirnya saya bisa ngobrol sama ibuku. Mamiii.. aku kangeeeeeennn!!

Aahh.. kami ngobrol ngalor ngidul. Tapi topik yang paling banyak kami obrolkan adalah, hhmm.. apalagi kalau bukan tentang makanan. “Masak apa hari ini, mam?” atau “Mam, gimana sih cara bikin cake ini atau kue itu?” Mam, minta resep megono dong.” Dan seterusnya. Dan sebagainya. Obrolan-obrolan ringan yang selalu ngangenin.

Kemarin itu mami cerita kalau resep muffin pisang-coklat cips yang saya kasih tempo hari sukses berat. Tapi kemudian ada usulan dari Bram. Dia minta Uti (panggilan anak-anak untuk ibuku, eyang putri mereka) sekali-sekali mencoba membuat muffin yang pakai keju dan irisan-irisan bacon. Mendengar cerita mami, saya kemudian menawarkan diri untuk mencarikan resep muffin gurih pesanan Bram itu di internet.

Sedang enak-enak ngobrol sama mami, tiba-tiba Bram minta bicara lagi. Habis itu Widya lagi. Hahaha. Never get enough talking with Mama No. Love it! Akhirnya bisa juga ngobrol sama papi. Kami ngobrol tentang kawinan sepupu saya yang menikah di Bandung akhir pekan yang lalu. Juga tentang sepupu yang lain yang akan menikah awal oktober mendatang. Dan sesi menelpon ke Jakarta berakhirlah.

Saya langsung melakukan riset kecil, mencari resep muffin gurih pesanan Bram. Hemmm.. tidak susah. Hanya 30 menit untuk mencari beberapa resep yang serupa, membandingkan satu dengan yang lain, akhirnya saya putuskan mengambil satu resep yang tampak bagus dilihat dari bahan-bahan yang digunakan.

Senang!

Setelah menerjemahkan resep itu ke dalam Bahasa Indonesia, membuat file-nya dalam bentuk word document dan kemudian menyimpan file itu dalam map resep di komputer, selesailah pencarian saya. Saya memberi judul resep ini: bacon-cheese muffin.

Tapi, tiba-tiba timbul keraguan, apakah resep ini benar resep yang bagus. Keraguan menimbulkan keinginan untuk mencoba memraktekkan resep ini sebelum saya mengirimkannya ke alamat email mami. Kebetulan kok ya saya punya semua bahan yang diperlukan untuk membuat muffin gurih ini.

Jadilah malam-malam saya berkutat di dapurku yang mungil, menguji coba resep baru ini. Ternyata hasilnya bagus.

Senang!!

Tapiiii, heemm.. rasanya kok agak machtig kalau kata orang Belanda. Atau mblenek kalau kata orang Jawa. Bagaimana cara mengatasinya agar rasa muffin gurih ini jadi tidak terlalu mblenek itu tadi? Kalau saya tambahkan daun seledri rajang dalam daftar bahan-bahan yang diperlukan, mungkin akan sedikit menolong. Jadilah saya tambahkan seledri rajang ke dalam daftar bahan keperluan untuk membuat muffin ini. Done!

Kemarin malam resep yang sudah saya uji coba dengan sukses ini saya kirimkan ke mami. Ke alamat emailnya. Tentu berikut segala penjelasannya, termasuk tentang seledri rajang yang perlu ditambahkan itu untuk mengurangi kadar ke-mblenek-an muffin gurih ini.

Terkirim!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: